EmitenNews.com - Levoca Enterprise Ltd menambah timbunan saham Bakrie & Brothers (BNBR). Itu dibuktikan dengan menyerok 14.679.337.000 helai alias 14,67 miliar saham emiten Grup Bakrie tersebut. Transaksi senyap tersebut telah dipatenkan pada Selasa, 19 Mei 2026. 

Transaksi perusahaan berbasis di Marshal Island itu dibantu oleh Ciptadana Sekuritas Asia. Sayangnya, transaksi dilakukan tanpa dukungan data terperinci. Namun, menyusul akumulasi tanpa berisik itu, timbunan saham BNBR dalam genggaman Levoca langsung menggunung.

Tepatnya, menjadi 23,89 miliar eksemplar setara dengan 13,78 persen. Melonjak 8,46 persen dari periode sebelum transaksi dengan tabulasi 9,21 miliar saham selevel dengan 5,32 persen. Kalau dikalkulasi berdasar penutupan perdagangan saham BNBR Rp153, transaksi itu bernilai sekitar Rp2,24 triliun. 

Saham BNBR Tertekan

Aksi borong saham itu, tidak lantas membuat saham BNBR langsung meroket. Sepanjang perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, saham BNBR berkutat di zona merah. Bertengger di level Rp148 per helai. Itu setelah mengalami koreksi 4 poin alias 2,63 persen dari perdagangan hari sebelumnya.

Dalam tempo sebulan terakhir, saham BNBR terus mengalami tekanan. Efeknya, saham BNBR anjlok 82 poin alias 35,65 persen dari episode 21 April 2026 di level Rp230. Menariknya, kalau dikalkulasi dalam tempo enam bulan terakhir, saham BNBR justru melonjak.

Yaitu, mengalami penguatan sekitar 102 poin alias 221,74 persen dari edisi 21 November 2025 di level Rp46 per eksemplar. Dalam durasi 52 Minggu terakhir, saham BNBR pernah menyentuh level tertinggi Rp264, dan terendah Rp25. Saham BNBR dibekali kapitalisasi pasar Rp25,67 triliun.   

Ledakan Laba 2025

BNBR sepanjang 2025 mencatat laba bersih Rp493,85 miliar. Menanjak 50,75 persen dari episode sama tahun sebelumnya senilai Rp327,59 miliar. Oleh sebab itu, laba per saham dasar dan dilusian emiten di bawah bendera Grup Bakrie tersebut menjadi Rp2,85 dari sebelumnya Rp2,04. 

Pendapatan bersih Rp3,74 triliun, susut 3,36 persen dari posisi sama tahun sebelumnya Rp3,87 triliun. Beban pokok pendapatan Rp2,99 triliun, mengalami penyusutan dari tahun sebelumnya Rp3 triliun. Laba kotor terkumpul Rp744,38 miliar, mengalami penciutan dari akhir tahun sebelumnya Rp869,47 miliar.