EmitenNews.com - Ada kabar terbaru dari saham Garuda Indonesia (GIAA). Saham maskapai BUMN itu tengah melesat 9,76% ke level Rp90 hingga penutupan sesi I perdagangan hari ini (Kamis, 8/1).

Kenaikan harga saham GIAA tersebut terjadi setelah adanya aksi dari Danantara Asset Management (Danantara AM). Pada Rabu (7/1), Danantara AM menyatakan telah mengurangi porsi kepemilikan saham GIAA dengan melepas 3,74 miliar.

Pengalihan kepada Badan Pengaturan BUMN itu terjadi dengan harga pelaksanaan Rp459 per saham. Menyusul skema harga itu, Danantara AM mengemas dana taktis senilai Rp1,71 triliun.

Atas transaksi itu, jumlah kepemilikan Danantara AM di GIAA menyusut 0,92% jadi 370,9 miliar eksemplar alias setara dengan 91,11% dari sebelumnya 92,031%.

Selanjutnya, Negara Republik Indonesia melalui BP BUMN mengempit saham GIAA sebanyak 3,74 miliar setara dengan 0,92%.

Dengan melihat harga terkini, menarik disimak bagaimana perjalanan harga GIAA sepanjang 2025 hingga hari ini. Berdasarkan data yang dihimpun Emitennews.com, saham GIAA memulai tahun 2025 dengan penurunan tipis dari Rp55 per akhir 2024 menjadi Rp54.

Setelah itu, saham GIAA berangsur turun dan mencapai titik terendah penutupan Rp31 pada 19 Maret 2025. Titik itu pun menjadi tumpuan GIAA untuk bergerak naik perlahan dan sempat menyentuh level penutupan tertinggi Rp126 pada 13 Oktober 2025.

Namun, sejak saat itu harga saham GIAA kembali berjalan turun hingga menutup tahun 2025 dengan level Rp98. Meski begitu, catatan tersebut telah membuat harga saham GIAA melesat 78,18% sepanjang 2025.

Sementara itu, saat memulai tahun 2026, saham GIAA juga masih dalam tren menurun dengan menutup hari pada level Rp96 dan terus berlanjut hingga 7 Januari 2026 menjadi Rp82.

Dalam rentang empat hari perdagangan 2026 itu, saham GIAA pun telah turun 16,33% dari posisi akhir 2025. Adapun pada hari ini, penguatan saham GIAA hingga 9,76% ke level Rp90 terjadi dengan nilai Rp5,97 miliar atas volume sebanyak 679,73 juta dengan frekuensi 1.600 kali.

Sebagai tambahan informasi, hingga 30 September 2025, Garuda Indonesia masih mencatat ekuitas negatif USD1,54 miliar. Di periode itu, perseroan juga mencatat penurunan pendapatan dari USD2,02 miliar menjadi USD1,84 miliar.

Alhasil, nilai kerugian Garuda Indonesia meningkat dari USD131,2 juta menjadi USD182,54 juta.

Balik ke belakang atau tepatnya per 30 Juni 2025, Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Areyanti dan Rekan sebagai telah menentukan nilai wajar dan nilai pasar saham GIAA. Penilaian itu dilakukan atas 100% saham GIAA atau sebanyak 91,48 miliar lembar saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh melalui Pendekatan Pendapatan (Income Based Approach) dengan metode Discounted Cash Flow (DCF) dan tingkat diskonto sebesar 8,65% serta potongan Discount for Lack of Marketability (DLOM) sebesar 20%.

Penilaian juga dilakukan melalui Pendekatan Pasar (Market Based Approach) menggunakan metode Guideline Publicly Traded Company (GPTC).

Berdasarkan perhitungan gabungan kedua metode tersebut, estimasi nilai pasar 100% saham GIAA sebesar USD423,91 juta atau setara dengan Rp6,88 triliun (kurs Rp16.234 per dolar AS). Nilai tersebut menghasilkan estimasi saham GIAA menjadi Rp75.

So, apakah dengan data-data itu dan perdagangan hari ini akan membuat saham GIAA terus mengudara dan siapkah sabuk pengaman Anda? Terus update informasi terkini GIAA di Emitennews.com. (*)

DISCLAIMER: Analisis ini bersifat edukasi dan informasi semata berdasarkan laporan riset yang tersedia, bukan merupakan rekomendasi jual atau beli untuk instrumen keuangan tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan risiko dan profil keuangan masing-masing. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.