Saham HSC Keluar dari IHSG, Sudah Cukup Perbaiki Pasar?
:
0
Suasana main hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: EmitenNews
EmitenNews.com - Saham-saham HSC (high shareholding concentration) dipastikan meninggalkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai 2 November 2026. Meski tidak masuk perhitungan IHSG, market cap masing-masing emiten masih dihitung secara akumulatif oleh bursa.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Iding Pardi menerangkan bobot saham-saham HSC terhadap IHSG sekitar 18 persen, dan terhadap market cap sekitar 30 persen dari total kapitalisasi pasar atau market cap bursa.
Bursa juga telah mengumumkan, sebanyak 81 saham HSC akan didepak dari IHSG, dengan periode efektif mulai 2 November 2026 hingga 29 Januari 2027.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas menilai pengecualian saham HSC dari perhitungan IHSG dapat dipandangan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas representasi indeks terhadap kondisi pasar yang lebih luas.
Menurut Nafan, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi berpotensi memiliki porsi saham beredar yang terbatas sehingga pergerakan harganya belum tentu mencerminkan pembentukan harga yang representatif bagi keseluruhan pasar.
“Apabila saham HSC tidak lagi diperhitungkan dalam IHSG, perubahan harga saham tersebut tidak akan secara langsung memengaruhi pergerakan indeks. Namun, sahamnya tetap diperdagangkan dan kapitalisasi pasarnya tetap tercatat sesuai ketentuan bursa. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara pencatatan kapitalisasi pasar sebagai ukuran nilai perusahaan dan penggunaan harga saham sebagai komponen penghitungan indeks,” terang Nafan kepada EmitenNews, Selasa (27/10/2026).
Dari sisi investor, kebijakan mendepak saham HSC dari IHSG juga berpotensi meningkatkan kualitas IHSG sebagai indikator pasar sekaligus mendorong emiten memperbaiki transparansi kepemilikan, likuiditas, dan free float.
“Meski demikian, efektivitasnya tetap bergantung pada kriteria HSC yang objektif, metodologi indeks yang transparan, dan pengawasan yang konsisten,” ujar Nafan.
Di sisi lain, risiko manipulasi harga tidak serta merta hilang atau dapat meningkatkan IHSG secara langsung.
“Dampak positif jangka panjang baru akan terlihat apabila reformasi ini diikuti perbaikan tata kelola dan kualitas pembentukan harga saham,” katan Nafan.
Related News
Dibuka Melemah, IHSG Lanjut Terkoreksi 0,35 Persen ke 5.247
Wall Street Perkasa, Aksi Jual Tekan IHSG
IHSG Kembali Tertekan, ini Ramalan Fitch
Manulife Perkuat Inklusi Keuangan Kaum Disabilitas
Jelang RUPSLB BEI, Cermati Proyeksi IHSG Hari Ini
Setor Jelantah Dapat E-Wallet, Pertamina Pacu Bioavtur





