Seirama Wall Street, IHSG Makin Berkilau
:
0
Indeks harga saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan sesi 2, Jumat 26 Juni 2026. Photo/Rizki EmitenNews.com
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu kompak ditutup menguat. Itu ditopang lonjakan saham sektor kesehatan, dan sektor keuangan terutama berhubungan dengan mata uang kripto seiring peningkatan harga bitcoin hingga 22 perssen dalam tempo hanya sepekan.
Beberapa saham sektor kesehatan membukukan penguatan, dan menjadi penopang Dow Jones di antaranya Merck melejit 2,39 persen, dan Johnson & Johnson menguat 1,07 persen. Adapun saham sektor keuangan berkaitan dengan mata uang kripto antara lain Robinhood melonjak 13,7 persen, dan Coinbase naik 8,20 persen.
Sementara di pasar obligasi, imbal hasil untuk tenor panjang kembali mencatat kenaikan meski pemerintah Amerika Serikat (AS) melipatgandakan operasi pembelian obligasi jangka panjang. Imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun naik 3 bps menjadi 4,734 persen, dan untuk tenor 30 tahun juga naik 3 bps menjadi 5,273 persen.
Penguatan indeks bursa Wall Street, lejitan harga myaoritas komoditas mineral logam, dan aksi beli investor asing diprediksi menjadi sentimen positif pasar. Tidak sedikit saham didongkel dari Small Cap, dan Micro Cap FTSE dalam rebalancing September 2026 berpeluang menjadi katalis negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).
Oleh sebab itu, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan kisaran support 6.465-6.405 dan resistance 6.585-6.650. Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan saham Bank BRI (BBRI), Bank BNI (BBNI), Antam (ANTM), Timah (TINS), Merdeka (MDKA), dan Harum (HRUM). (*)
Related News
IHSG Susuri Zona Merah, Indeks LQ45 hingga IDX80 Naik-Turun!
IHSG Makin Berotot, IPOT Jagokan Saham-saham Berikut
Mau IPO, Intip Kinerja SWAP dan Alokasi Dananya Untuk Apa
Proyeksi IHSG Awal Pekan, Analis Waspadai Potensi False Break
Sentimen FTSE Warnai Gerak IHSG
Ekonomi Digital Asia Pasifik Diproyeksi Capai US$1,4 Triliun pada 2030





