Selamat dari Fase Kritis, Garuda Indonesia (GIAA) Bidik Laba Rp6,35 Triliun di Akhir 2023

Yang juga mendukung pertumbuhan kinerja, yakni perseroan berhasil menurunkan harga sewa pesawat hingga 30-50% setelah restrukturisasi, dan kini hanya membayar biaya sewa pesawat sesuai dengan durasi pemakaian pesawat kepada lessor.
Pada akhir kuartal III-2023, Garuda Indonesia dan AirAsia telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang mencakup tiga bentuk kerja sama.
Ketiga kerja sama itu, yaitu dalam bidang kargo antara Garuda Indonesia dan Air Asia Group, codeshare antara Citilink dan Air Asia, serta maintenance, repairs , dan operations (MRO) pesawat. "Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi kedua maskapai dan meningkatkan daya saing di industri penerbangan," ujar Irfan.
Tak hanya itu, merger antara Pelita Air dan Citilink yang diharapkan akan selesai pada akhir 2023 juga dianggap dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap efisiensi perusahaan.
Hal ini diharapkan akan membuka peluang untuk meningkatkan sinergi operasional antara dua maskapai, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan pelayanan kepada pelanggan.
"Dengan adanya merger ini, Garuda Indonesia Group akan lebih memperkuat posisinya di pasar penerbangan dalam negeri maupun internasional, sehingga dapat mendorong pertumbuhan dan daya saing perusahaan secara keseluruhan," tutur Irfan.
Irfan menambahkan, perseroan diprediksi akan mencatatkan laba USD589 juta pada 2024 mendatang. Kemudian, pada 2025 laba perseroan ditargetkan sebesar USD631 juta, dan sebesar USD647 juta pada 2026.
Related News

NTT East dan SURGE (WIFI) Umumkan Investasi Strategis Rp4 Triliun

Kena Peringatan Dua Kali! BEI Umumkan Nasib Saham Ini

BTN Lakukan Transaksi Afiliasi untuk Bangun Eco Park di Depok

ZINC Sebut Bayar Amoritisasi Obligasi Rp1,66M

Direktur BBNI Borong Saham Saat Turun, Ada Tujuan?

Brigit Biofarmaka (OBAT) Setujui Tebar Dividen 100 Persen Laba 2024