Sentimen Trump Reda, IHSG Masih Dibayangi MSCI
:
0
Suasana main hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: EmitenNews/Rizki
EmitenNews.com - Sentimen politik Amerika Serikat (AS) mulai memberikan angin segar bagi pasar saham global. Namun, perbaikan sentimen tersebut belum tentu langsung mendorong penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengingat pasar domestik masih dibayangi ketidakpastian evaluasi MSCI, tekanan rupiah, hingga risiko arus keluar modal asing.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, menilai hasil pemilu sela AS yang dimenangkan Partai Demokrat dengan menguasai mayoritas kursi di Senat dan House of Representatives berpotensi mengurangi ketidakpastian politik di Negeri Paman Sam.
“Kemenangan Partai Demokrat yang berhasil menguasai mayoritas kursi di Senat dan House of Representatives memang berpotensi membatasi ruang gerak Presiden Donald Trump dalam menjalankan agenda legislasi, termasuk kebijakan fiskal, perdagangan, dan belanja pemerintah. Namun, dari perspektif pasar modal, hasil tersebut justru mengurangi ketidakpastian politik yang selama ini menjadi salah satu faktor penghambat keputusan investasi,” tutur Nafan, Kamis (5/11/2026).
Di saat yang sama, sentimen positif Wall Street berpotensi memberikan efek psikologis positif terhadap perdagangan di bursa, terutama melalui peningkatan kepercayaan investor dan perbaikan risk appetite terhadap emerging markets.
Meski demikian, Nafan menilai pengaruh positif tersebut berpotensi terbatas apabila persoalan domestik belum terselesaikan. Ketidakpastian MSCI, tekanan nilai tukar rupiah, risiko keluarnya modal asing, serta persepsi risiko investasi Indonesia masih menjadi sejumlah faktor yang membayangi pergerakan IHSG.
Pelaku pasar juga akan mencermati efektivitas langkah OJK dan BEI dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperbaiki kualitas free float, serta memperkuat pengawasan terhadap praktik manipulasi perdagangan.
Kekhawatiran terhadap potensi reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market juga masih berpotensi memicu aksi jual investor asing.
Di luar persoalan pasar modal, Nafan turut menyoroti perkembangan kasus dugaan penyadapan ilegal yang melibatkan sejumlah perwira tinggi Polri. Menurutnya, isu tersebut berpotensi menambah persepsi risiko politik dan tata kelola pemerintahan.
Sementara itu, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada menilai pasar saham domestik pada November 2026 menghadapi kombinasi sentimen global dan dalam negeri. Selain evaluasi MSCI, arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) masih menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan arus modal asing.
Menurut Reza, ketidakpastian terkait evaluasi MSCI juga membuat investor institusi global cenderung bersikap wait and see sembari mencermati konsistensi upaya peningkatan transparansi di pasar modal Indonesia.
Related News
Aksi Jual Reda, IHSG Lanjut Menguat
Investor Cermati Data Ekonomi, IHSG Uji Level Berikut
Hapus Sanksi Pajak 100%, Manfaatkan Sebelum 31 Des 2026
IHSG Diramal Bergerak Sideways Hari Ini
MSCI Akan Umumkan Ini pada Index Review Pekan Depan, Apa Saja?
IHSG Berbalik Menguat ke 4.919, Tiga Big Banks Ini Topang Transaksi





