Sepanjang 2025, Waskita Karya (WSKT) Raih Kontrak Baru Rp12,52 Triliun
:
0
PT Waskita Karya (WSKT).dok. Top Business.
EmitenNews.com - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatatkan nilai kontrak baru senilai Rp12,52 triliun sepanjang 2025. Itu berarti emiten BUMN sektor konstruksi itu, meraih pertumbuhan dibandingkan Rp9,55 triliun pada 2024.
Dalam keterangannya Kamis (2/4/2026), Corporate Secretary WSKT Ermy Puspa Yunita mengungkapkan nilai kontrak baru perseroan didominasi oleh proyek pemerintah. Di antaranya jaringan irigasi, sekolah rakyat (SR), serta konstruksi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di berbagai wilayah.
"Pengerjaan proyek-proyek itu merupakan wujud kontribusi Waskita dalam mensukseskan upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan yang menjadi fokus Presiden saat ini. Kami akan terus mendorong sekaligus membantu keberhasilan program pemerintah," ujar Ermy Puspa Yunita.
Dari sisi operasional, perseroan telah mengelola sebanyak 63 proyek di berbagai wilayah di Indonesia, dengan total nilai kontrak mencapai Rp31,7 triliun per 31 Desember 2025.
Data yang ada menyebutkan, sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan konsolidasi senilai Rp8,85 triliun yang dikontribusikan dari induk usaha senilai Rp5,75 triliun dan dari anak usaha senilai Rp3,1 triliun.
Ditilik dari segmentasi usaha, pendapatan perseroan bersumber dari segmen konektivitas senilai Rp3,3 triliun, Sumber Daya Air (SDA) senilai Rp1,4 triliun, gedung senilai Rp1,2 triliun, serta segmen lainnya senilai Rp900 miliar.
Beban pokok pendapatan perseroan tercatat senilai Rp7,2 triliun atau 82 persen dari pendapatan usaha perseroan. Dengan begitu perseroan membukukan laba bruto senilai Rp1,58 triliun pada 2025 atau tumbuh 12 persen (yoy) dibandingkan senilai Rp1,41 triliun pada 2024.
Sementara itu, Gross Profit Margin perseroan tercatat sebesar 18 persen pada 2025, atau membaik dibandingkan sebesar 13 persen pada 2024. Waskita meraih hal itu berkat strategi efisiensi operasional proyek yang dijalankan. Tidak hanya di induk perusahaan tapi juga pada anak usaha.
Perseroan juga mencatatkan biaya operasional (opex) senilai Rp1,7 triliun sepanjang 2025. Sebanyak 76,6 persen di antaranya merupakan biaya operasional cash. Sedangkan, sebesar 23,4 persen sisanya berupa non-cash seperti beban penyusutan dan amortisasi aktiva perseroan.
Secara keseluruhan, perseroan berhasil menurunkan liabilitas senilai Rp2,21 triliun pada 2025. Fokus perseroan saat ini yaitu menurunkan liabilitas melalui beberapa rencana strategis, di antaranya percepatan divestasi jalan tol dan optimalisasi aset.
Related News
Top 10 Buy Foreign Sepekan, DSSA & Big Banks Banyak Diakumulasi Asing!
Top 3 Emiten Rumah Sakit Konglo, Juaranya SILO, MIKA, atau HEAL?
SILO Raih Kredit Sindikasi Rp14,5T, Aset First REIT Ikut Dijaminkan
Merugi, Emiten Software (RUNS) Boncos 44,37 Persen Hingga Juni 2026
SMBC Indonesia (BTPN) dan BTN Tuntaskan Transaksi Alih Aset Pinjaman
Prospek Pasar Segmen Enterprise TLKM Diprediksi Naik 30 Persen





