EmitenNews.com - Vietnam mencatat defisit neraca perdagangan sebesar USD 2,64 miliar pada Juni 2026 akibat lonjakan impor, menyusul tren serupa di Indonesia yang juga beralih ke zona defisit pada Mei 2026. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Juni tahun sebelumnya yang mencetak surplus USD 3,2 miliar.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026. Angka itu berbalik dari surplus USD 4,30 miliar pada Mei 2025 dan meleset dari ekspektasi pasar yang memproyeksikan surplus USD 1,2 miliar. BPS menyebut Mei 2026 menjadi defisit perdagangan pertama sejak April 2020. Penyebabnya adalah ekspor yang turun secara tak terduga dan impor yang melonjak.

Meskipun ekspor Vietnam tumbuh 28,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) mencatat rekor tertinggi USD 50,79 miliar, menurut data Trading Economics laju impor negara itu melonjak lebih cepat sebesar 45,2% ke rekor tertinggi baru, yaitu USD 53,43 miliar.

Sepanjang paruh pertama (H1) tahun 2026, akumulasi defisit perdagangan Vietnam menembus USD 16,65 miliar. Total ekspor selama enam bulan pertama mencapai USD 266,52 miliar (naik 21,0% yoy), sementara impor melesat 33,4% yoy menjadi USD 283,17 miliar.

Komoditas industri olahan mendominasi ekspor dengan nilai USD 239,8 miliar atau menyumbang 90,0% dari total ekspor, di mana Amerika Serikat menjadi pasar tujuan terbesar dengan nilai USD 86,5 final. Sebaliknya, impor didominasi oleh bahan produksi sebesar USD 266,4 miliar (94,1% dari total impor), dengan China sebagai pemasok utama senilai USD 115,2 miliar.

Meski neraca perdagangan defisit, produk domestik bruto (PDB) Vietnam tetap tumbuh kuat sebesar 8,39% yoy pada kuartal II/2026, naik dari 7,83% pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ini menggenjot ekspansi ekonomi paruh pertama tahun ini menjadi 8,18%.

Sektor industri dan konstruksi memimpin pertumbuhan dengan lonjakan 10,51% dan berkontribusi 50,07% terhadap total nilai tambah. Sektor layanan tumbuh 7,87%, sementara sektor pertanian meningkat 4,06%.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi akhir masyarakat naik 8,15% dan investasi tetap melonjak hingga 15,20%. Di sektor perdagangan luar negeri, ekspor barang dan jasa meningkat 20,18%, namun impor melampauinya dengan pertumbuhan 26,44%.

Performa ini menegaskan kuatnya permintaan domestik serta tingginya aktivitas aliran perdagangan eksternal Vietnam di tengah fase transisi ekonomi yang serupa dengan dinamika pasar Indonesia saat ini.(*)