EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,43 persen menjadi 8.274. Rupiah juga terkoreksi menjadi Rp16.894 per dolar Amerika Serikat (USD). Sektor teknologi mencatat koreksi terbesar, dan sektor basic materials membukukan penguatan terbesar.

Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram positif MACD, dan Stochastic RSI mengarah overbought. Namun, volume jual mengalami lonjakan. Sehingga diperkirakan indeks cenderung bergerak sideways pada kisaran 8.200-8.350. Dan, untuk kali kelima, Bank Indonesia mempertahankan BI rate 4,75 persen.

Keputusan itu, sejalan upaya menstabilkan rupiah cenderung tertekan, menjaga inflasi tetap berada dalam kisaran target BI, dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan kredit Januari 2026 mencapai 9,96 persen YoY dari Desember 2025 di level 9,69 persen YoY, pertumbuhan tercepat sejak Februari 2025.

Investor akan menanti data Current Account kuartal IV-2025 diperkirakan surplus USD2 miliar dari kuartal III-2025 dengan surplus USD4 miliar. Indonesia dan Amerika Serikat (AS) meneken kesepakatan dagang dengan poin-poin AS menyetujui penurunan tarif impor untuk produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen.

Selanjutnya, Indonesia menghapus bea impor untuk sebagian besar produk asal AS. Produk minyak sawit Indonesia mendapat fasilitas tarif impor 0 persen. Namun, produk tekstil tetap dikenakan tarif resiprokal 19 persen. Bersamaan dengan perjanjian pemerintah, telah diteken 11 Nota Kesepahaman (MoU) sektor swasta kedua negara senilai USD38,4 miliar.

Kerja sama itu, mencakup sektor mineral kritis, energi, agribisnis, tekstil, dan teknologi semikonduktor. Berdasar data itu, Phintraco Sekuritas menjagokan saham AMMN, TKIM, PSAB, ANTM, dan ADMR sangat laik untuk bahan koleksi. (*)