EmitenNews.com - PT Sunter Lakeside Hotel Tbk (SNLK) membukukan penurunan total aset sebesar 2,68% menjadi Rp203,68 miliar per 30 Juni 2026, dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar Rp209,29 miliar.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya aset lancar maupun aset tidak lancar. Aset lancar tercatat turun 5,20% menjadi Rp29,71 miliar dari sebelumnya Rp31,34 miliar. Sementara itu, aset tidak lancar turun 2,24% menjadi Rp173,96 miliar dari Rp177,95 miliar pada akhir 2025.

Di sisi lain, perseroan berhasil menekan total liabilitas sebesar 6,61% menjadi Rp42,66 miliar, dibandingkan Rp45,68 miliar pada akhir tahun lalu. Liabilitas tersebut terdiri atas liabilitas jangka pendek sebesar Rp13,38 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp29,27 miliar.

Sementara itu, total ekuitas tercatat sebesar Rp161,02 miliar, turun dibandingkan posisi akhir 2025 seiring penurunan aset dan masih dibukukannya rugi pada periode berjalan.

Dari sisi kinerja operasional, SNLK mencatatkan pendapatan sebesar Rp21,11 miliar pada semester I-2026 atau meningkat 13,98% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18,52 miliar.

Namun, kenaikan pendapatan tersebut diiringi meningkatnya beban pokok pendapatan sebesar 17,37% menjadi Rp10,07 miliar dari sebelumnya Rp8,58 miliar. Perseroan juga masih menanggung beban usaha sebesar Rp9,92 miliar, beban penyusutan Rp4,87 miliar, serta beban keuangan sebesar Rp5,8 juta.

Kondisi tersebut membuat SNLK masih membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp2,58 miliar. Meski masih merugi, nilai tersebut menunjukkan perbaikan signifikan karena rugi berhasil ditekan 55,59% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai Rp5,81 miliar.

Perbaikan kinerja juga tercermin dari rugi per saham yang menyusut menjadi Rp5,4 per saham, dari sebelumnya Rp12,4 per saham, atau membaik sekitar 56,45%.

Dari sisi arus kas, perseroan mencatat arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas operasi sebesar Rp2,26 miliar, sedikit lebih besar dibandingkan defisit Rp2,08 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Arus kas investasi tercatat negatif Rp843,74 juta, terutama digunakan untuk perolehan aset tetap senilai Rp892,63 juta.