EmitenNews.com - Serius ini. Kalau tidak, tak mungkin Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto. Pemimpin negeri jiran itu, meminta bantuan agar Prabowo menyelesaikan persoalan investasi Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority (Felda) pada perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

Dalam keterangannya kepada berbagai media, di antaranya Bernama, seperti dikutip Rabu (26/8/2026), PM Anwar telah menyurati koleganya terkait investasi Felda yang kini masih berproses di pengadilan Indonesia. Bukan apa-apa. Jika persoalan tersebut tidak segera terselesaikan, Felda berpotensi merugi hingga RM2,5 miliar atau sekitar Rp11 triliun.

Felda disebut hanya akan memperoleh pengembalian dana sebanyak RM200 juta atau sekitar Rp876 miliar dari total investasinya di BWPT.

"Investasi BWPT masih menghadapi proses hukum di Indonesia. Saya sudah menyurati Presiden Prabowo Subianto agar beliau dapat menindaklanjuti persoalan tersebut. Jika masalah ini tidak segera ditangani, potensi kerugian yang kami hadapi bisa mencapai RM2,5 miliar, sedangkan dana yang mungkin dapat dipulihkan hanya sekitar RM200 juta,” ujar Anwar Ibrahim.

Sejauh ini, Felda belum berhasil mendapatkan kembali dana investasinya, karena BWPT masih mempermasalahkan perkara tersebut melalui proses hukum di Indonesia.

Anwar juga meminta jajaran manajemen Felda memahami secara menyeluruh persoalan yang dihadapi lembaga tersebut, terutama terkait tata kelola, dan tidak terpengaruh narasi yang justru mengecilkan persoalan.

"Semua manajer Felda harus sepenuhnya memahami masalah-masalah ini. Mereka tidak boleh berkecil hati, tetapi harus menyadari bahwa masalah-masalah ini harus diatasi," katanya lagi.

Awalnya Felda Melalui FIC Properties Sdn Bhd Beli Saham BWPT

Data yang ada menyebutkan, persoalan ini bermula ketika Felda melalui anak usahanya, FIC Properties Sdn Bhd, membeli saham BWPT pada Desember 2016. Nilai transaksi mencapai USD505,4 juta atau sekitar Rp8,9 triliun dengan asumsi kurs Rp16.750 per dolar AS.

Sebenarnya sejak awal, investasi tersebut menuai kritik. Pasalnya, harga pembelian saham dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan nilai pasar dan harga saham BWPT saat itu.