EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan perdagangan secara live harga baru Rp1 per saham pada pekan ketiga atau keempat September 2026. Hal ini dikarenakan masih terdapat anggota bursa yang belum menyatakan kesiapannya.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik juga menerangkan bahwa pihaknya telah melakukan dua kali mock trading untuk penerapan harga Rp1.

Untuk diketahui, mock trading merupakan kegiatan uji coba yang dilakukan BEI bersama anggota bursa untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan sistem remote trading sebelum aktivitas perdagangan sebenarnya dibuka.

“Hasil sementara adalah 83 anggota bursa sudah siap, tetapi 8 anggota bursa lainnya belum siap. Jadi saat ini kita intens berkomunikasi dengan anggota bursa yang belum siap dengan pendampingan yang akan kita berikan,” ujar Jeffrey di gedung BEI, Selasa (1/9).

Sebelumnya disampaikan, bahwa BEI akan menghapus harga saham Rp50 menjadi Rp1. Dengan perubahan ini, BEI menginginkan saham-saham yang tertahan di level ‘gocap’ dapat kembali likuid diperdagangkan.

Selain membuka keran likuiditas bagi saham-saham tersebut, penerapan harga baru itu diharapkan mampu membentuk price discovery baru yang lebih baik.

“Tentu tujuannya adalah untuk memberikan likuiditas kepada investor yang selama ini tidak bisa mendapatkan likuiditas dari saham-saham tersebut, itu tujuan utamanya. Dan yang kedua adalah price discovery, pembentukan harganya adalah di harga yang lebih wajar. Sementar target kita adalah itu,” tutur Jeffrey.