Strategi Investasi Cacing-Naga dan Tren Berburu Saham Corporate Action
:
0
ilustrasi papan perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Dok/EmitenNews
EmitenNews.com -Strategi investasi “cacing-cacing, naga-naga” sedang banyak diperbincangkan pelaku pasar saham tanah air. Istilah ini awalnya diperkenalkan seorang investor muda bernama Andry Hakim.
Pada salah satu podcast, Andry mengisahkan strategi investasi yang dilakoninya di pasar saham. Sempat merugi 50% dan kehilangan uang sebesar 500 juta rupiah, ia mengklaim sudah berhasil membalikkan kerugian itu menjadi keuntungan yang berkali-kali lipat. Ratusan miliar rupiah sudah berhasil diraihnya dari pasar saham dalam kurun waktu yang tak terlalu panjang.
Lebih lanjut Andry mengatakan, kriteria perusahaan yang selalu dicarinya adalah perusahaan dengan market cap yang masih kecil namun memiliki alasan/story yang sangat kuat untuk bisa bertumbuh berkali lipat.
Salah satu contohnya adalah fenomena bank digital yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Andry mengklaim berhasil meraup untung ribuan persen atau setara puluhan bahkan mungkin ratusan miliar dari hasil berinvestasi di beberapa saham bank digital kala itu.
Kriteria lain yang paling menarik perhatiannya adalah perusahaan-perusahaan yang berpotensi melakukan aksi korporasi (corporate action) misalnya ketika ada perusahaan kecil yang tidak dilirik pasar namun berpotensi akan segera diakuisisi oleh perusahaan besar.
Salah satu kisah paling fenomenal dan masih terus menjadi perbincangan hari-hari belakangan ini adalah saham PANI. Awalnya, perusahaan ini bernama PT Pratama Abadi Nusantara Tbk bergerak di bisnis produsen kemasan. Tahun 2021, mayoritas saham perusahaan ini diakusisi oleh PT Multi Arta Pratama (MAP), salah satu anak perusahaan raksasa properti di tanah air yaitu PT Agung Sedayu.
Nama PANI pun berubah menjadi PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk seiring lini bisnisnya yang telah mengalami perubahan besar. Berbagai sumber informasi menyebutkan, jumlah saham PANI yang dibeli MAP sebanyak 328 juta dengan harga Rp 165 per saham. Sehingga MAP “hanya” mengeluarkan dana Rp 54,12 miliar untuk akuisisi PANI.
Sebagaimana kita ketahui, harga saham PANI sudah naik berkali-kali lipat. Sempat mengalami penurunan tajam akibat heboh kasus “pagar laut”, saham PANI ternyata masih tetap diincar banyak investor/trader saham. Sebelum libur panjang bursa kemarin, harga saham PANI ditutup di angka Rp 12.725 per lembar sahamnya.
Saham PANI sempat mencapai all time high nya pada pertengahan Desember tahun lalu yaitu Rp 19.650. Berbagai nada optimisme menyebutkan harga PANI akan terus melesat sampai menyentuh harga Rp 40.000 bahkan mungkin lebih tinggi.
Kembali soal investasi “cacing-cacing, naga-naga”, sebagaimana dijelaskan oleh Andry, bermakna bahwa saat sudah merasa berhasil menemukan saham perusahaan yang diinginkan, maka harus berani menaruh seluruh uang kita di saham tersebut.
Related News
Akar Masalah Joki Coretax
Sanksi Massal BEI: Penegakan Disiplin atau Compliance Semu?
Risiko PNM di bawah Kemenkeu
Kebijakan Bertubi-tubi Uji Kepercayaan Investor Pasar Modal RI
Dorong Swasta Investasi di Infrastruktur, Pemerintah Tak Perlu Modal
Menata Pengelolaan Risiko Denera





