EmitenNews.com -Emiten energi yang tengah bertransformasi menuju bisnis berkelanjutan, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), mengumumkan rencana besar untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus menjaga stabilitas nilai saham di pasar. Perseroan menjadwalkan pelaksanaan Penambahan Modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right issue serta pembelian kembali saham (buyback) dalam waktu dekat.

Dua aksi korporasi ini menjadi sinyal kuat dedikasi manajemen dalam mendanai pilar bisnis baru, yakni kendaraan listrik (EV), energi terbarukan (EBT), dan pengelolaan limbah (waste management).

Berdasarkan keterbukaan informasi yang diterbitkan pada 10 Maret 2026, TOBA berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 1.390.000.000 (1,39 miliar) saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham. Dana yang dihimpun dari aksi ini akan dialokasikan sepenuhnya untuk mendukung ekspansi usaha di sektor strategis rendah karbon.

Beberapa poin penting terkait right issue ini adalah Persetujuan RUPSLB. Rencana ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 16 April 2026.

Bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya, kepemilikan saham mereka berpotensi terdilusi hingga maksimal 14,23%.

Aksi korporasi ini bertujuan agar perseroan meraih dana segar sebagai modal baru yang akan memperkuat struktur permodalan guna mendukung proyek-proyek pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan ekosistem kendaraan listrik.

Secara bersamaan, TOBA juga mengalokasikan dana internal untuk melakukan buyback saham sebanyak-banyaknya 815.802.093 lembar saham atau setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor.

Manajemen memperkirakan kebutuhan dana untuk aksi ini mencapai Rp448,69 miliar (setara USD26,51 juta) dengan asumsi harga saham Rp550 per lembar. Langkah ini diambil dengan pertimbangan bahwa harga saham saat ini belum mencerminkan nilai intrinsik dan potensi pertumbuhan perseroan di masa depan.

Periode buyback direncanakan berlangsung selama 12 bulan, terhitung sejak 17 April 2026 hingga 17 April 2027.

Strategi Kinerja: Tiga Pilar Menuju Netralitas Karbon 2030

Di tengah proses divestasi aset batu bara dan PLTU, SVP Corporate Finance & Investor Relations TBS Energi Utama, Mirza Hippy, menegaskan bahwa perseroan kini memfokuskan pundi-pundi kinerjanya pada tiga pilar utama:

  1. Ekosistem Kendaraan Listrik (EV)

Melalui kolaborasi dengan Grup GoTo, TOBA telah meluncurkan brand Electrum. Hingga saat ini, sekitar 7.500 unit motor listrik telah beroperasi dengan dukungan lebih dari 350 stasiun penukaran baterai di wilayah Jabodetabek dan Surabaya. Pengembangan ini didukung oleh pembiayaan blended concessional dari Asian Development Bank (ADB) dan DBS Indonesia.

  1. Energi Baru Terbarukan (EBT)

TOBA telah memulai operasi komersial Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) di Lampung berkapasitas 6 MW pada Januari 2025. Selain itu, proyek PLTS Terapung di Batam berkapasitas 46 MWp ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun ini.

  1. Pengelolaan Limbah (Waste Management)

Sektor ini menjadi motor pertumbuhan baru yang signifikan. Setelah mengakuisisi AMES, Arah Environmental Indonesia, dan Sembcorp Environment (kini bernama Cora Environment), segmen ini menyumbang USD 155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan perseroan pada tahun buku 2025. Di Singapura, TOBA bahkan telah menerapkan konsep energy from waste dengan menjual uap (steam) hasil olahan limbah ke kawasan industri.

Meskipun mencatatkan rugi bersih sebesar USD 162 juta akibat penurunan harga batu bara global serta biaya non-kas dari divestasi PLTU sebesar USD 97 juta, posisi kas perseroan tetap solid. TOBA berhasil menjaga posisi kas sebesar USD 102,3 juta, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya.

Langkah divestasi dua unit PLTU tersebut juga secara drastis memangkas emisi karbon perseroan hingga 1,4 juta ton CO2 per tahun, menempatkan TOBA pada jalur yang tepat (on track) untuk mencapai target Net Zero Emissions pada tahun 2030.