EmitenNews.com - Harga emas dunia bergerak turun mendekati level USD4.100 per ons pada perdagangan Rabu (21/10). Penurunan ini menandai pelemahan harga emas selama empat sesi berturut-turut yang dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah serta meningkatnya kekhawatiran inflasi global, sebagaimana dilaporkan Trading Economics pada Rabu (21/10).

Kenaikan harga minyak dunia kembali terjadi setelah seorang diplomat membantah kabar tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memperkuat spekulasi pasar mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral global.

"Upaya untuk mengakhiri konflik masih terus berlangsung," kata seorang diplomat yang terlibat dalam diskusi tersebut guna mengklarifikasi status negosiasi AS-Iran.

Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, ditambah rentetan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, makin mempertinggi kekhawatiran akan gangguan pasokan energi.

Di sisi lain, Federal Reserve AS diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pekan depan, namun pasar mengantisipasi peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Bank Sentral Jepang juga diproyeksikan menahan suku bunga acuan pekan depan sebelum menaikkannya pada Desember mendatang.

Meskipun emas secara tradisional berfungsi sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, tingkat suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas dibanding aset lain yang menghasilkan imbal hasil atau bunga.

Penurunan harga emas dunia ini memberikan dampak langsung terhadap pergerakan harga emas batangan di dalam negeri serta dinamika investasi lindung nilai para pelaku pasar. Selain itu, potensi kenaikan suku bunga global akibat tingginya inflasi energi berisiko memicu tekanan pada nilai tukar rupiah dan memengaruhi kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia.(*)