EmitenNews.com - Fenomena perubahan iklim El Nino dan kenaikan suhu udara memicu lonjakan permintaan pada industri minuman nasional sepanjang September 2026. Kondisi tersebut menempatkan subsektor industri minuman sebagai pencetak nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tertinggi di antara 23 subsektor manufaktur di Indonesia.

Meskipun secara umum industri manufaktur nasional bertahan di fase ekspansi dengan skor IKI 51,93, pelaku usaha menghadapi penumpukan stok barang di gudang. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan biaya logistik pengiriman barang untuk pasar ekspor maupun domestik, serta sikap wait and see produsen dalam menunda pengiriman dari gudang.

Dalam Rilis IKI September 2026 di Jakarta pada Rabu (30/9/2026), Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif menjelaskan bahwa variabel produksi sedikit menurun akibat dinamika tersebut.

"Kenaikan suhu udara ikut meningkatkan permintaan produk industri minuman dan utilisasi industrinya sehingga subsektor industri minuman mencapai IKI tertinggi dibandingan 23 subsektor industri lainnya," katanya.

Febri menambahkan bahwa Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah menginstruksikan jajaran Kemenperin untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem terhadap pasokan bahan baku, energi, tenaga kerja, hingga pengiriman barang.

"Menteri Perindustrian telah memerintahkan jajarannya agar memitigasi dampak El Nino pada industri baik terhadap bahan baku, energi, pekerja, pergudangan atau pengiriman barang sehingga kinerja eksosistem rantai pasok industri selama musim ini tidak terganggu," ujar Febri pada Rabu (30/9/2026).

Berdasarkan data Kemenperin, dari 23 subsektor yang dianalisis, sebanyak 15 subsektor mengalami ekspansi dan menyumbang 84,4 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas Triwulan II-2026. Selain industri minuman, pertumbuhan juga ditopang oleh industri alat angkutan lainnya yang didorong peningkatan penjualan sepeda motor domestik sebesar 2,16 persen menjadi 4,36 juta unit periode Januari–Agustus 2026.

Penumpukan persediaan di gudang manufaktur serta tingginya biaya logistik menjadi tantangan nyata bagi efisiensi rantai pasok industri di Indonesia. Pemerintah bersama pelaku usaha terus berkoordinasi guna menjaga daya saing pasar domestik dan ekspor di tengah potensi gangguan cuaca serta fluktuasi biaya distribusi.(*)