EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan status Unusual Market Activity (UMA) terhadap empat saham yang sempat mencatat kenaikan pesat. Keempat emiten tersebut adalah PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN), PT Intra Golflink Resorts Tbk. (GOLF), PT Pakuan Tbk. (UANG), serta PT Planet Properindo Jaya Tbk. (PLAN).

Informasi tersebut disampaikan oleh Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Yulianto Aji Sadono, dan dikutip melalui keterbukaan informasi pada Jumat (23/1/2026). 

Penetapan UMA dilakukan menyusul pergerakan harga saham yang dinilai tidak biasa dalam beberapa hari terakhir.

Pada perdagangan Kamis (22/1/2026), keempat saham tersebut mencatat penguatan massal hingga ditutup di harga teratas harian alias terkena Aito-Rejection Atas (ARA). Saham PGUN melonjak 19,87 persen atau naik 2.275 poin ke level Rp13.725 dari posisi sebelumnya Rp11.450. Saham GOLF melesat 24,69 persen atau naik 80 poin ke Rp404 dari Rp324.

Berlanjut, saham UANG ditutup menguat 20,00 persen atau naik 1.250 poin ke Rp7.500, berikut juga saham PLAN yang turut naik 9,46 persen atau bertambah 7 poin ke Rp81.

Namun, arah pergerakan berbalik tajam sehari setelah pengumuman UMA. Pada perdagangan Jumat (23/1), tiga dari empat saham tersebut terkapar bersamaan. Saham UANG anjlok paling dalam dengan koreksi 15 persen atau turun 1.125 poin hingga menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) di Rp6.375.

Tekanan juga terjadi pada saham PGUN milik Haji Isam itu, yang usai cetak ARA kini terkoreksi 7,47 persen atau turun 1.025 poin ke Rp12.700. Saham GOLF kepunyaan Tommy Soeharto turut melemah 6,93 persen atau turun 28 poin ke level Rp376.

Berbeda dengan tiga saham lainnya, saham PLAN justru bertahan di zona hijau bahkan melesat di harga tertinggi harian atau Auto-Rejection Atas ARA dengan penguatan 9,88 persen atau naik 8 poin ke Rp89.

BEI menjelaskan bahwa pengumuman UMA tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran peraturan pasar modal. Namun, investor diimbau untuk mencermati kinerja fundamental, keterbukaan informasi, serta potensi risiko sebelum mengambil keputusan investasi, terutama pada saham-saham yang mengalami volatilitas ekstrem. (*)