EmitenNews.com - Presiden Prabowo Subianto tidak sabar lagi menunggu terwujudnya pabrik pengolahan mineral tanah jarang. Melanjutkan arahan Presiden, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) bersiap memulai groundbreaking pembangunan pabrik mineral yang diminati dunia tersebut pada 20 Mei 2026 di Tanjung Ular, Bangka Barat, Bangka Belitung. 

Menurut Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro pembangunan pabrik ini menjadi tonggak baru bagi perusahaan, mengingat selama ini pengolahan mineral tanah jarang belum pernah dilakukan.

"Ini tantangan utama karena Bapak Presiden sudah memerintahkan kami, paling dekat tanggal 20 Mei 2026, groundbreaking untuk proyek pabrik mineral tanah jarang," kata Restu Widiyantoro dalam Rapat Dengar Pendapat  bersama Komisi VI DPR RI, seperti dikutip Rabu (8/4/2026).

Presiden memberikan arahan langsung agar proyek ini segera direalisasikan, dengan target percepatan monetisasi. Setidaknya, dalam waktu paling lambat dua tahun setelah pembangunan dimulai, pabrik tersebut sudah mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.

"Groundbreaking-nya 20 Mei, dan Pak Presiden sudah memerintahkan harus monetisasi paling lambat dua tahun harus ada produk monetisasinya. Artinya sudah bisa menghasilkan uang untuk negara," ujarnya.

Pengelolaan mineral tanah jarang merupakan hal yang relatif baru bagi perusahaan. Namun demikian, TINS optimistis dapat mengembangkan sektor tersebut dengan berbekal pengalaman puluhan tahun dalam mengelola komoditas timah.

"Yang dibutuhkan adalah rasa percaya diri, PD, untuk siap dan berani mengelola karena itu memang nilainya luar biasa," katanya.

Nilai ekonomi mineral ikutan timah berpotensi meningkat hingga puluhan kali lipat apabila berhasil diolah menjadi produk bernilai tinggi. Misalnya seperti untuk kebutuhan pembangkit listrik, energi surya, hingga bahan baku kendaraan listrik. Semua itu tantangan bagi PT Timah.

"Ini tantangan bagi kami di PT Timah. Kami beruntung sekarang ada partner, setelah puluhan tahun kami sendirian. Sekarang ada Perminas yang dibentuk oleh pemerintah, dan sudah mulai bersama kami untuk mengeksekusi program-program pemerintah," katanya.

Informasi yang dikumpulkan Rabu (8/4/2026), menyebutkan bahwa megaproyek ini difokuskan pada pengolahan mineral ikutan timah, seperti monasit, untuk mendukung hilirisasi industri energi, kendaraan listrik, dan teknologi. 

Dalam operasionalnya pabrik ini memisahkan unsur logam tanah jarang dari monasit untuk kebutuhan industri modern, sekaligus memanfaatkan thorium sebagai energi masa depan. Langkah ini bagian dari upaya intensif hilirisasi mineral strategis nasional, yang terus diintensifkan pemerintah. 

Fokus produknya yang diharapkan sudah menghasilkan dalam dua tahun pembangunannya adalah pengolahan monasit yang mengandung unsur-unsur penting seperti Cerium, Lantanum, Neodymium, dan Praseodimium. ***