EmitenNews.com - PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) menyiapkan capital expenditure (capex) sebesar Rp600 miliar untuk proyeksi kinerja pada tahun 2026. Biaya tersebut akan dialokasikan untuk pembangunan tenaga suplai, pemeliharaan infrastruktur di kebun dan pabrik, hingga pengalokasian pertumbuhan perusahaan melalui akuisisi perusahaan.

Head of Corporate Finance & Strategy, Wasisto Budi Sulistio juga menyampaikan, saat ini telah merealisasikan Rp220 miliar atau 77 persen dari total dana bersih hasil IPO untuk sebesar Rp285 miliar untuk tiga agenda perusahaan.

Ketiganya yaitu, akuisisi PT Cipta Davia Mandiri sebesar Rp136 miliar, penyetoran modal kepada PT Telen Prima Sawit sebesar 44 miliar untuk pembangunan pabrik pengolahan inti sawit (kernel crushing plant/KCP), serta penyetoran modal kepada PT Data Lestari sebesar Rp40 miliar untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga biogas (biogas power plant/BPP).

Rencananya, lanjut Wasisto, pembangunan tersebut ditargetkan selesai akhir tahun 2026 yang lokasinya masih dalam area perkebunan perseroan yaitu di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

"Investasi pada pembangunan KCP dan BPP tersebut mampu memperkuat integrasi operasional perseroan, sekaligus menerapkan prinsip circular economy.

Artinya, limbah sawit diolah menjadi produk bernilai tambah dan sumber energi terbarukan, selaras dengan komitmen perseroan menerapkan ESG," ujar Wasisto, saat press conference RUPST TLDN di Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Kendati demikian, Wasisto menyebut, adanya konflik geopolitik global berpengaruh terhadap sejumlah sektor kinerja perusahaan. Khususnya, pada beberapa harga material dan barang-barang pendukung yang mengalami kenaikan harga.

Dua komponen utama yang cukup berdampak ke perseroan yaitu kebutuhan pupuk dan minyak. Untuk pupuk, perseroan telah melakukan langkah preventif dengan membeli saat harga belum naik sebanyak 70 persen dari total kebutuhan.

Sehingga, untuk memenuhi sisanya, kondisi keuangan perseroan masih cukup stabil di tengah naiknya harga pupuk.

Berbeda dengan pupuk, untuk minyak, perseroan cukup merasakan dampak geopolitik tersebut dengan terjadinya kenaikan harga.

Meski begitu, karena porsi yang dibutuhkan dalam struktur biaya perkebunan hanya 18-20 persen dari total biaya, kenaikan itu masih bisa diantisipasi perseroan.

Berkaitan dengan kenaikan harga tersebut, perseroan telah mengambil langkah mitigasi dengan menginisiasi shifting atau perubahan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan, yaitu menggunakan biogas power plant.

"Selain itu, perseroan juga sudah menginisiasi untuk menggunakan tenaga surya di beberapa perkebunan, sekaligus mengimplementasikan hal tersebut sebagai pelayanan dasar untuk menerangi perumahan, hingga kawasan sekitar pabrik," lanjut Wasisto.

Dengan strategi yang diambil perseroan, TLDN optimis meraih peningkatan target produksi lebih tinggi sebesar 5-10 persen dibandingkan tahun 2025.

"Begitu juga dengan target pendapatan dan laba tahun 2026. Kami optimis untuk bisa mencapai 10 persen lebih baik dibandingkan tahun 2025," pungkas Wasisto.