EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia merosot lebih dari 4 persen menuju level USD 80 per barel pada hari Senin. Penurunan tajam ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kelanjutan pembicaraan damai dengan Iran serta membatalkan rencana serangan militer terhadap negara tersebut.

Pelemahan harga minyak internasional ini menjadi angin segar bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia. Penurunan harga bahan baku energi global berpotensi mengurangi beban subsidi energi serta menekan biaya impor migas nasional.

Langkah pembatalan serangan militer tersebut diambil setelah Trump mendapat masukan dari negara mitra di kawasan Teluk.

"Donald Trump mengatakan sekutu-sekutu utama Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, mendesaknya untuk menangguhkan serangan dan memprioritaskan negosiasi, sambil mengulangi seruannya untuk pembukaan kembali Selat Hormuz dengan cepat," tulis laporan Trading Economics.

Penurunan harga pada perdagangan hari Senin ini berbanding terbalik dengan lonjakan harga pada bulan sebelumnya. Pada Juli, harga minyak sempat melonjak lebih dari 20 persen atau sekitar 23 persen akibat kembali memanasnya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketegangan militer sebelumnya sempat merusak perjanjian perdamaian sementara dan memicu gangguan pasokan energi di jalur pelayaran vital, mulai dari Selat Hormuz hingga kawasan Laut Merah.

Di sisi penawaran, kelompok negara produsen minyak OPEC+ juga telah menyetujui peningkatan kuota produksi secara moderat. Kebijakan ini menyelesaikan pemulihan pemotongan produksi yang telah diterapkan sejak tahun 2023. Langkah OPEC+ tersebut memberikan ruang bagi penambahan pasokan minyak global secara bertahap setelah konflik di Timur Tengah mereda.(*)