EmitenNews.com - Dalam terminologi manajemen strategis, tahun 2026 adalah tahun "pemurnian" bagi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Perusahaan telah mengeksekusi dua divestasi jumbo, menjual unit bisnis Es Krim kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia senilai Rp7 triliun, dan melepas bisnis teh SariWangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa (anak usaha Grup Djarum) senilai Rp1,5 triliun. 

Secara operasional, ini adalah langkah efisiensi yang brutal namun logis. Manajemen memangkas unit bisnis yang memiliki Cost of Goods Sold (COGS) volatil (teh) dan biaya logistik rantai pendingin yang mahal (es krim). Tujuannya jelas, menciptakan entitas yang lebih ramping dengan Operating Margin yang lebih tebal.

Inventarisasi Kekuatan, Siapa Saja "The Survivors"?

Investor mungkin bertanya, jika es krim dan teh dijual, lantas Unilever berjualan apa? Jawabannya terletak pada barisan Power Brands yang memiliki kekuatan penetapan harga dan perputaran arus kas cepat. Pasca-divestasi, portofolio "New UNVR" terkonsolidasi pada tiga pilar utama. 

Pada segmen Home Care atau perawatan rumah tangga yang menjadi benteng pertahanan utama dengan arus kas stabil, perseroan masih menggenggam erat merek-merek raksasa. Di kategori pembersih kain, mereka memiliki Rinso sebagai pemimpin pasar dan Molto sebagai pewangi. Sementara untuk kebersihan rumah, barisan produknya mencakup Sunlight yang merajai sabun cuci piring, Super Pell, Wipol, Vixal, Cif, dan Domestos. Tanpa gangguan kompleksitas logistik es krim, distribusi produk-produk ini diproyeksikan akan menjadi jauh lebih efisien.

Pindah ke segmen Beauty & Personal Care yang merupakan tambang margin bagi perusahaan, fokus inovasi kini tertuju penuh pada merek-merek perawatan tubuh. Di kategori perawatan kulit dan tubuh, Unilever masih memiliki Lifebuoy, Lux, Dove, Vaseline, Citra, Glow & Lovely, Pond's, Pond's Men, serta Love Beauty & Planet. Untuk perawatan rambut, portofolio mereka diperkuat oleh Sunsilk, Clear, Clear Men, Tresemme, dan Dove Hair. Segmen ini juga dilengkapi oleh dominasi Pepsodent dan CloseUp di kategori gigi dan mulut, serta Rexona, Axe, dan Zwitsal untuk deodoran dan perawatan bayi. 

Terakhir, di segmen Nutrition atau nutrisi, meskipun tanpa teh, Unilever kini mempertajam fokus pada "bumbu kehidupan" yang esensial seperti kecap manis legendaris Bango, penyedap Royco, sambal Jawara, serta merek profesional Knorr dan Hellmann's, dengan Buavita yang masih dipertahankan sebagai satu-satunya portofolio minuman nutrisi.

Membaca Tren Harga Saham, Dari 'Blue Chip' ke 'Fallen Angel'?

Restrukturisasi portofolio yang radikal ini adalah respon panik namun terukur terhadap kinerja saham yang memprihatinkan dalam satu dekade terakhir. Jika kita menarik garis sejarah sejak penawaran umum perdana atau IPO pada tahun 1982, UNVR sempat menjadi saham multibagger atau pengali kekayaan yang terus mendaki hingga mencapai puncak kejayaannya pada Januari 2018 di kisaran harga yang disesuaikan sekitar Rp11.000-an. 

Namun, sejak titik kulminasi tersebut, saham ini mengalami tren penurunan struktural yang menyakitkan, kehilangan lebih dari 60% nilainya hingga terjerembab di kisaran Rp2.600-an pada awal 2026. Strategi melepas SariWangi dan Wall's adalah upaya terakhir manajemen untuk memutus siklus penurunan ini.

Di tengah transformasi ini, satu pertanyaan kritis yang wajib direnungkan oleh setiap investor cerdas adalah apakah strategi menjual aset-aset besar ini benar-benar sebuah langkah jenius untuk efisiensi jangka panjang, ataukah sebenarnya merupakan sinyal keputusasaan manajemen yang mulai kehabisan ide untuk menumbuhkan bisnis secara organik, sehingga terpaksa menjual "harta keluarga" demi memoles laporan keuangan jangka pendek dan menutupi stagnasi inovasi? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah UNVR layak dikoleksi kembali atau sebaliknya.

Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi berbasis riset, bukan perintah beli atau jual. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan risiko masing-masing (DYOR - Do Your Own Research).