EmitenNews.com - Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia tercatat meningkat pada Februari 2026. Bank Indonesia melaporkan, ULN Indonesia mencapai 437,9 miliar dolar AS, naik dibandingkan posisi Januari 2026 sebesar 434,9 miliar dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 2,5 persen secara yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 1,7 persen yoy.

Menurut Ibrahim, kenaikan ULN tersebut didorong oleh peningkatan utang sektor publik, khususnya bank sentral. Hal ini sejalan dengan derasnya aliran modal asing yang masuk ke instrumen moneter, terutama Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN sektor swasta justru mengalami penurunan.

“Dari sisi pemerintah, posisi ULN tercatat sebesar 215,9 miliar dolar AS pada Februari 2026. Secara tahunan, angka tersebut tumbuh 5,5 persen, sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 5,6 persen,” tutur Ibrahim dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (17/4/2026).

Ibrahim melanjutkan, perkembangan ULN pemerintah tersebut juga dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang, meskipun secara keseluruhan masih menunjukkan tren pertumbuhan.

Di tengah peningkatan utang, tekanan terhadap kesehatan fiskal juga mulai terlihat. Hingga Maret 2026, defisit anggaran tercatat mencapai 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) atau setara Rp240 triliun. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,4 persen atau Rp100 triliun.

Kondisi ini, kata Ibrahim, diperparah oleh asumsi harga minyak global yang kini berada di kisaran USD100 per barel, jauh di atas asumsi dalam APBN sebesar USD70 per barel.

“Dengan perkembangan tersebut, pemerintah diperkirakan akan melakukan revisi APBN pada Agustus 2026. Salah satu risiko yang muncul adalah potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi guna menahan laju defisit agar tidak menembus batas 3 persen dari PDB,” ujar Ibrahim.