EmitenNews.com - Terjadi peningkatan volume penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ekonomi dan keuangan (local currency transaction/LCT) secara tahun berjalan (year to date/ytd). Bank Indonesia mengungkapkan sejak awal tahun hingga April 2026 mencapai USD22,61 miliar AS. Terbesar dengan mitra utama LCT, China sampai 89 persen.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama mengungkapkan hal tersebut dalam diskusi bersama media di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).

Jumlah tersebut meningkat signifikan apabila dibandingkan dengan periode Januari hingga April 2025 yang sebesar USDD7,33 miliar. Menurut data BI, sepanjang 2025, volume LCT tercatat sebesar USD25,72 miliar.

“Volume ini naik tajam. Ini mendorong diversifikasi mata uang, bahwa tidak harus semua lewat dolar AS,” kata Ruth A. Cussoy Intama.

Berdasarkan catatan BI, negara mitra utama LCT antara lain China, Jepang dan Malaysia dengan distribusi masing-masing 89 persen, 6 persen dan 3 persen.

Bagusnya, dalam catatan BI, jumlah pelaku LCT terus meningkat. Sejak awal tahun hingga April 2026, rata-rata jumlah pelaku LCT per bulan mencapai 5.265 pelaku.

Penggunaan mata uang lokal secara langsung dalam transaksi bilateral lebih efisien dibandingkan harus melalui dolar AS sebagai mata uang perantara.

Bukan apa-apa. Transaksi lintas negara umumnya masih menggunakan skema cross rate. Misalnya, dari rupiah ke dolar AS terlebih dahulu sebelum dikonversi ke mata uang negara tujuan, sehingga menimbulkan biaya tambahan akibat dua kali konversi kurs.

Karena itulah, BI memandang LCT dapat menjadi solusi untuk menekan biaya transaksi sekaligus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam aktivitas ekonomi dan keuangan antarnegara mitra.

Satu hal, selain diversifikasi eksposur mata uang, Ruth menambahkan bahwa pengembangan LCT juga diarahkan untuk memperdalam pasar mata uang lokal di kawasan regional serta memperluas partisipasi pelaku pasar.