EmitenNews.com - Beberapa jam setelah rilis terbaru lembaga penyedia indeks saham global, MSCI, nilai tukar rupiah hari ini langsung loyo. Pantauan Emitennews.com dari kalkulator konversi mata uang Google pagi ini pukul 10.00 rupiah berada di level Rp17,962 per dolar AS. Melemah dibanding posisi 22 Juni sebesar Rp17.870 per dolar AS.

Belum jelas apakah pelemahan nilai tukar mata uang Garuda ini berkorelasi dengan rilis terbaru MSCI Rabu dinihari tadi yang mengancam menurunkan pasar saham Indonesia dari kategori emerging market ke frontier jika dalam beberapa bulan mendatang tidak memperbaiki kinerjanya.

Kemungkinan lain, rupiah, seperti sebelumnya bersama mata uang global lainnya melemah karena terdampak menguatnya mata uang dolar AS terhadap hampir semua mata uang, pasca ketidakpastian situasi di Selat Hormuz yang menempatkan dolar masih sebagai safe-heaven atau instrumen investasi yang dianggap paling aman.

Trading Economics pagi ini mencatat Indeks dolar berada di sekitar 101,4 pada Rabu, diperdagangkan pada level tertinggi dalam lebih dari setahun karena ekspektasi untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini tetap kuat. Sementara penjualan yang dipimpin teknologi di Wall Street meningkatkan permintaan untuk mata uang safe-haven.

Pada pertemuan kebijakan terbarunya, pejabat Fed mempertahankan suku bunga tidak berubah tetapi menunjukkan dukungan yang meningkat untuk pengetatan lebih lanjut, sementara Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, mengulangi komitmennya untuk memulihkan stabilitas harga.

Pasar kini memperkirakan sekitar 70% kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan September, naik tajam dari 29,1% seminggu sebelumnya. Investor juga menantikan laporan inflasi PCE minggu ini, ukuran inflasi yang disukai Fed, untuk petunjuk tambahan tentang prospek kebijakan moneter.

Sementara itu, kemajuan dalam negosiasi perdamaian AS-Iran telah meningkatkan lalu lintas melalui Selat Hormuz, meredakan ketegangan di pasar energi global dan membantu mengurangi tekanan inflasi.(*)