EmitenNews.com - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) atau WOM Finance akan menerbitkan dan menawarkan Obligasi Berkelanjutan V WOM Finance Tahap III Tahun 2026 dengan jumlah pokok sebesar Rp1,5 triliun. Obligasi tersebut diterbitkan tanpa warkat, kecuali Sertifikat Jumbo Obligasi atas nama Kustodian Sentral Efek Indonesia sebagai bukti utang kepada pemegang obligasi.

Manajemen Wom Finance, dalam keterbukaan informasi, Senin (23/2/2026) menyatakan, obligasi ditawarkan dengan harga 100% dari nilai pokok dan terbagi ke dalam dua seri. Seri A ditawarkan dengan jumlah pokok sebesar Rp1,27 triliun, memiliki tingkat bunga tetap 4,95% per tahun dan tenor 370 hari kalender. Pembayaran pokok dilakukan secara penuh (bullet payment) pada saat jatuh tempo.

Sementara itu, Seri B memiliki jumlah pokok sebesar Rp230 miliar dengan tingkat bunga tetap 5,50% per tahun dan tenor 3 tahun. Sama seperti Seri A, pembayaran pokok dilakukan secara penuh pada saat jatuh tempo.

Bunga obligasi dibayarkan setiap tiga bulan. Pembayaran bunga pertama dijadwalkan pada 3 Juni 2026. Adapun jatuh tempo Obligasi Seri A ditetapkan pada 13 Maret 2027, sedangkan Obligasi Seri B akan jatuh tempo pada 3 Maret 2029.

Berdasarkan hasil pemeringkatan dari Pemeringkat Efek Indonesia, obligasi jangka panjang WOM Finance memperoleh peringkat IdAAA (Triple A), mencerminkan kemampuan sangat kuat Perseroan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka panjangnya.

Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi sekaligus penjamin emisi obligasi adalah BRI Danareksa Sekuritas, KB Valbury Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Maybank Sekuritas Indonesia (terafiliasi), serta Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. Sementara wali amanat ditunjuk Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Masa penawaran umum obligasi berlangsung pada 23–25 Februari 2026, dengan tanggal penjatahan pada 27 Februari 2026. Tanggal emisi, pengembalian dana pemesanan, serta distribusi obligasi secara elektronik dijadwalkan pada 3 Maret 2026, dan obligasi akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada 4 Maret 2026.

Lebih lanjut, Manajemen WOMF menyatakan bahwa dari sisi prospek usaha, industri perusahaan pembiayaan di Indonesia pada 2026 diperkirakan tumbuh stabil di kisaran 8%–10%, didorong oleh konsumsi rumah tangga, realisasi investasi, serta kebutuhan pembiayaan di sektor konsumtif dan produktif. Pembiayaan kendaraan bermotor dan pembiayaan usaha, termasuk segmen UMKM, diproyeksikan tetap menjadi kontributor utama.

Kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan yang berkelanjutan serta pemanfaatan teknologi dan digitalisasi proses pembiayaan menjadi faktor pendukung kinerja industri. Meski demikian, pelaku multifinance tetap menghadapi tantangan struktural, mulai dari persaingan usaha, pengelolaan kualitas portofolio, hingga penyesuaian terhadap regulasi yang berlaku.

Secara keseluruhan, prospek industri multifinance pada 2026 dinilai relatif stabil, dengan peluang pertumbuhan yang sejalan dengan kondisi ekonomi domestik dan kemampuan perusahaan menjaga kualitas aset serta efisiensi operasional.