EmitenNews.com - Nilai tukar yen Jepang bergerak stagnan di kisaran 161,7 per dolar AS pada perdagangan hari Senin. Angka ini menempatkan yen tetap berada di dekat level terlemahnya dalam empat dekade terakhir, atau tepatnya sejak tahun 1986.

Pelemahan mata uang ini tetap terjadi meskipun data ekonomi domestik Jepang menunjukkan performa positif.
Menurut data dari Trading Economics penjualan ritel di negara tersebut dilaporkan melonjak 5,3 persen pada bulan Mei. Capaian itu menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak November 2023, yang sebagian besar didorong oleh paket stimulus pemerintah untuk meningkatkan pengeluaran konsumen.

Rentetan data ekonomi yang solid serta pernyataan agresif dari para pejabat bank sentral memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank of Japan (BOJ) akan melanjutkan kenaikan suku bunga tahun ini. Berdasarkan jadwal resmi, BOJ akan mengumumkan keputusan kebijakan moneter terbarunya pada 31 Juli mendatang.

Meski demikian, yen terus menghadapi tekanan hebat. Upaya Kementerian Keuangan Jepang yang berulang kali memberikan peringatan verbal hingga eksekusi intervensi mata uang dalam nilai rekor hampir dua bulan lalu belum mampu membalikkan keadaan. Kondisi ini dipicu oleh kokohnya dolar AS dan lebarnya kesenjangan suku bunga antara Amerika Serikat dan Jepang, terlebih Federal Reserve (The Fed) diprediksi masih akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.

Bagi Indonesia, kejatuhan nilai tukar yen terhadap dolar AS ini memberikan dampak ganda. Di satu sisi, pelemahan yen berpotensi meringankan biaya impor bahan baku dan barang modal asal Jepang bagi industri nasional. Namun di sisi lain, volatilitas mata uang global ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan regional Asia Tenggara, termasuk memberikan tekanan tidak langsung terhadap stabilitas nilai tukar rupiah yang juga tengah bersaing menghadapi keperkasaan dolar AS.(*)