EmitenNews.com - Sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI dan akan efektif pada 1 Juni 2026. Pengamat menilai penghapusan ini bersifat teknikal dan tidak mencerminkan penurunan fundamental emiten.

MSCI mengumumkan hasil rebalancing pada 12 Mei 2026. Lima saham dicoret dari MSCI Global Standard Index: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Sementara 13 saham keluar dari MSCI Global Small Cap Index, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Pasca pengumuman, beberapa saham tertekan. AMMN sempat anjlok 14,86% ke Rp3.150 dan menyentuh auto rejection bawah pada perdagangan 18 Mei 2026. Foreign flow AMMN juga mencatat net sell Rp304 miliar dan berbalik jual sejak Maret 2026. 5c265b86

Menanggapi rebalancing ini, Co Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal, Dr Hans Kwee dalam Kamis (28/5) menyebut pasar berpotensi menghadapi volatilitas tinggi pada Jumat, 29 Mei 2026. Pasalnya, fund manager pasif akan menyesuaikan portofolio mengikuti perubahan MSCI.

“Melihat pola pergerakan saham pasca pengumuman MSCI, kemungkinan sebagian besar fund manager telah melakukan penyesuaian portofolio tanpa menunggu sampai tanggal terakhir 29 Mei 2026. Yang menarik tidak terlihat kepanikan berarti di pasar, biarpun sebagian saham yang dikeluarkan MSCI tertekan turun,” kata Hans.

Ia memaparkan bahwa penghapusan MSCI lebih terkait metodologi bobot dan likuiditas.

“Ini bukan mencerminkan perubahan atau penurunan fundamental pada perusahaan tersebut. Banyak perusahaan yang dikeluarkan berfundamental bagus, punya prospek yang sangat baik dan saat ini punya valuasi yang sangat menarik,” ujarnya.

Hans menambahkan, pasca rebalancing ini IHSG bisa jadi mencapai bottom dan berpeluang bangkit.

“Reformasi pasar modal oleh OJK dan SRO telah berhasil meningkatkan dan memperkuat transparansi, kredibilitas, dan integrasi Pasar Modal Indonesia sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor lokal dan asing,” ucap Hans.