AS-Iran Memanas, Wall Street Beragam, Suku Bunga Fed Intai RI
:
0
Indeks saham utama Wall Street Amerika Serikat ditutup bervariasi pada Rabu (8/7) akibat kembali meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran.(Foto: Magnific)
EmitenNews.com - Indeks saham utama Wall Street Amerika Serikat ditutup bervariasi pada Rabu (8/7) akibat kembali meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran serta rilis risalah rapat Bank Sentral.
Berdasarkan data Bloomingbit.io, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 576,76 poin (1,09 persen) ke level 52.348,39. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 21,14 poin (0,28 persen) ke posisi 7.482,71, namun indeks Nasdaq Composite berhasil berbalik menguat 51,96 poin (0,20 persen) ke level 25.870,65 jelang penutupan pasar.
Kecemasan pasar dipicu oleh bentrokan militer terbaru antara AS dan Iran, serta pernyataan Presiden Donald Trump mengenai potensi serangan tambahan. Namun, aksi jual mereda setelah Trump menyatakan dirinya tidak berpikir perang akan dimulai lagi. Ketidakpastian geopolitik ini turut menjadi perhatian bagi pasar keuangan Indonesia karena potensi dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan harga komoditas global.
"Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah telah mengganggu narasi pasar yang sebelumnya semakin merasa puas," kata Daniela Sabin Hathorn dari Capital.com. Investor kini dipaksa untuk menilai kembali risiko geopolitik.
Pemulihan Nasdaq didorong oleh penguatan saham teknologi besar. Saham Broadcom melonjak 4,8 persen menyusul perluasan perjanjian pasokan semikonduktor senilai 30 miliar USD dengan Apple. Saham Nvidia juga terangkat 3,7 persen karena laporan bahwa Tiongkok akan mengizinkan perusahaan kecerdasan buatan domestik membeli chip H200, yang membawa Indeks Semikonduktor Philadelphia naik 2,2 persen. Sebaliknya, saham sektor perjalanan seperti United Airlines dan Delta Air Lines melemah, sementara saham SpaceX turun 0,8 persen ke level terendahnya sejak IPO.
Sentimen pasar domestik global juga tertekan oleh risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Juni yang menegaskan kembali kekhawatiran inflasi. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) sebesar minimal 0,25 poin persentase pada Juli meningkat menjadi 30,5 persen. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada September naik ke angka 65,7 persen.
Prospek pengetatan kebijakan moneter The Fed ini menjadi sinyal waspada bagi investor di Indonesia, mengingat kenaikan suku bunga AS biasanya memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang dan menekan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Di sisi lain, indeks volatilitas Cboe (VIX) tercatat naik 4,77 persen ke level 16,9.(*)
Related News
Imbal Hasil Obligasi Jepang 10 Tahun Tembus Rekor Tertinggi 30 Tahun
Harga Minyak Melonjak, Beban Subsidi Energi RI Berpotensi Membengkak
Resmi jadi Pemungut PPN Digital, Strava Janji Harga Langganan Tak Naik
Perjuangan Menuju Skema Single Salary ASN, Ini Tekad Bulat Kepala BKN
Perbaiki Coretax Lagi, Tekad Purbaya Tekan Shortfall Pajak 2026
Batam Menuju Gerbang Maritim dan Investasi Global. Ini Arahan Presiden





