EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 7 persen menyentuh 75,6 USD per barel pada Rabu akibat peningkatan ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Berdasarkan data Trading Economics, minyak jenis Brent juga terus merangkak naik menuju angka 79 USD per barel pada Kamis. Secara akumulatif, harga minyak telah meningkat hampir 10 persen dalam minggu ini. Lonjakan ini terjadi setelah militer Amerika Serikat (AS) mengonfirmasi serangan berturut-turut di Iran selama dua hari terakhir.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir dan mengancam akan melakukan serangan tambahan serta blokade baru terhadap Iran. AS juga resmi mencabut pengecualian yang selama ini memungkinkan Iran menjual minyak mentah. Langkah tegas ini diambil menyusul serangkaian serangan terbaru terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Merespons tindakan tersebut, pihak Teheran mengklaim telah menargetkan 85 lokasi militer AS di Bahrain dan Kuwait. Teheran menyebut aksi ini sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh pihak AS.

Konflik yang kembali memanas di jalur air vital tersebut membuat para pemilik kapal dan produsen regional menghindari kawasan tersebut. Peningkatan ketegangan ini menandai pembalikan tajam dari kondisi pasar sebelumnya. Pasar awalnya memproyeksikan terjadinya kelebihan pasokan (oversupply) setelah OPEC+ meningkatkan kuota produksi dan para produsen Timur Tengah bergerak menaikkan output mereka.

Bagi pasar domestik dan investor di Indonesia, lonjakan harga minyak mentah dunia ini menjadi sinyal kuat yang perlu diwaspadai. Sebagai negara importir neto minyak (net oil importer), kenaikan harga komoditas ini berpotensi langsung menekan nilai tukar Rupiah dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Selain itu, kenaikan yang signifikan berisiko membengkakkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), atau memaksa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri yang dapat memicu inflasi.(*)