EmitenNews.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas target pencatatan saham perdana (IPO) tahun 2026 dari semula 50 perusahaan menjadi hanya 15 perusahaan.

Revisi target tersebut diungkap Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik usai RUPSLB BEI, Rabu (28/10/2026), saat ditanya target IPO dalam RKAT 2026 Revisi.

"15 (IPO)," kata Jeffrey singkat.

Revisi drastis ini sejalan dengan realisasi pencatatan yang lesu sepanjang 2026. Hingga 23 Oktober 2026, baru 7 perusahaan yang melantai di BEI dengan total dana dihimpun Rp2,16 triliun.

Ketujuhnya adalah WBSA, JELI, JECX, BACH, EMMI, PRDL, dan RANS. Sementara pipeline IPO per 23 Oktober mencatat antrean sejumlah 9 perusahaan, dengan komposisi 1 aset skala kecil, 5 menengah, dan 3 besar. Secara sektor terdiri dari basic materials 2, energy 2, financials 1, dan healthcare 4 perusahaan.

Angka ini jauh di bawah rata-rata 5 tahun terakhir. Pada 2020 ada 51 IPO, 2021 ada 54 IPO, 2022 ada 59 IPO, 2023 ada 79 IPO, 2024 ada 41 IPO, dan 2025 ada 26 IPO.

Jeffrey menyebut prospek 2027 masih akan ditopang harapan perbaikan kondisi pasar dan potensi dari program hilirisasi pemerintah.

Untuk prospek 2027, Jeffrey melihat potensi masih ada meski tantangan tak berkurang, "Pertama, tentu kita berharap kondisi pasar itu membaik. Tetapi terlepas dari itu, kami juga melihat potensi yang cukup besar. Misalnya, pemerintah kan aktif mendirikan kawasan industri, mendorong perusahaan-perusahaan untuk berinvestasi di industri manufaktur. Tentu itu akan membutuhkan pembiayaan, salah satu potensi pembiayaannya tentu adalah melalui pasar modal."

Selain itu, BEI juga melirik potensi dari restrukturisasi Danantara seiring dengan disetujuinya Anggaran Dasar terkait Demutualisasi.

"Sekarang ini Danantara kan juga sedang melakukan restrukturisasi. Dari hasil restrukturisasi tersebut juga tentu ada potensi, ada beberapa perusahaan hasil restrukturisasi dari kelompok Danantara yang bisa dicatatkan juga di bursa," kata Jeffrey.