EmitenNews.com - Pemegang saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyetujui pembagian dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp281 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Kamis (12/3/2026).

Dengan menggunakan harga saham BBCA pada perdagangan Kamis (12/3/2026) di level Rp6.950 per saham, nilai dividen tersebut mengindikasikan dividend yield sekitar 4 persen.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong memaparkan bahwa sepanjang 2025 perseroan membukukan laba bersih Rp57,53 triliun. Berdasarkan usulan penggunaan laba bersih tersebut, sebagian dialokasikan untuk pembagian dividen kepada pemegang saham.

Direktur BCA, Vera Eve Lim turut merinci total dividen yang dibagikan untuk tahun buku 2025 mencapai sekitar Rp41 triliun, yang setara dengan Dividend Payout Ratio (DPR) sekitar 72 persen dari laba bersih perseroan. Angka tersebut meningkat dibandingkan Dividend Payout Ratio tahun buku 2024 sebesar 67,4 persen.

Sebelumnya, BBCA telah membagikan dividen interim sebesar Rp55 per saham yang telah dibayarkan pada 11 Desember 2025. Dengan demikian, total dividen tahun buku 2025 mencapai Rp336 per saham, yang terdiri dari dividen interim Rp55 per saham dan dividen final Rp281 per saham.

Dalam pemaparannya, Vera juga menyampaikan bahwa selain pembagian dividen, sisa laba bersih yang tidak dibagikan akan dicatat sebagai laba ditahan alias retained earnings guna memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi bisnis perseroan.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris Independen Cyrillus Harinowo memaparkan sejumlah fokus strategi perseroan untuk mempertahankan kinerja, antara lain penguatan layanan transaksi, peningkatan kualitas kredit, penguatan permodalan, pengembangan teknologi informasi, peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, serta implementasi prinsip keberlanjutan (ESG).

Sepanjang 2025, BCA mencatatkan pertumbuhan kinerja dengan total kredit mencapai sekitar Rp993 triliun, dana pihak ketiga sekitar Rp1,249 triliun, serta total aset sekitar Rp1.587 triliun. Perseroan juga mencatat laba sebelum pajak sekitar Rp57,5 triliun dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap terjaga pada level rendah.

Ke depan, manajemen menilai fundamental bisnis perbankan masih memiliki prospek pertumbuhan seiring meningkatnya aktivitas ekonomi dan penguatan transaksi digital di sektor keuangan.