BEI Buka Tabir HSC, Akui Ada Potensi Jangka Pendek Hingga Panjang
Penjabat Sementara (Pjs.) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik saat ditemui di Gedung BEI, Senin (6/4/2026). Foto: EmitenNews/Aji.
EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai membuka tabir di balik implementasi High Shareholding Concentration (HSC), sembari mengakui potensi gejolak jangka pendek hingga panjang sebagai konsekuensi dari reformasi struktur pasar yang tengah dijalankan.
Penjabat Sementara (Pjs.) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik saat ditemui di Gedung BEI, Senin (6/4/2026) mengatakan, pengumuman HSC bukan merupakan bentuk sanksi maupun indikasi pelanggaran, melainkan semata-mata informasi pelengkap untuk meningkatkan transparansi kepada investor.
“High shareholding concentration ini tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran. Ini semata-mata sebagai informasi kepada investor bahwa ada sekelompok tertentu pemegang saham yang memegang saham ini secara terkonsentrasi,” ujar Hasan.
Ia menjelaskan, HSC mencerminkan kondisi di mana kepemilikan saham suatu emiten terkonsentrasi pada sejumlah kecil pihak, baik individu maupun institusi, tanpa harus berkorelasi atau berstatus afiliasi dengan pelanggaran aturan.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi terkonsentrasi tidak selalu berarti melanggar aturan free float.
“Bisa saja sebagian besar saham itu masih masuk dalam kriteria free float, tetapi jumlah pemegang sahamnya hanya tertentu sehingga menjadi terkonsentrasi,” jelasnya.
Terkait metodologi, ia menjabarkan, “Metodologi dari High Shareholding Concentration itu tidak sepenuhnya dapat diungkap kepada publik, tetapi itu adalah proses yang dapat kami pertanggungjawabkan. OJK juga dapat melakukan pengawasan dan audit atas proses tersebut.”
Mengenai dampak ke pasar, Jeffrey mengakui potensi HSC bahwa, “Secara realistis kita melihat memang ada potensi dampak jangka pendek, termasuk tekanan jual atau volatilitas. Namun, ini adalah bagian dari proses transisi menuju pasar yang lebih sehat.”
BEI menyadari adanya potensi dampak jangka pendek terhadap pasar, termasuk tekanan jual dan peningkatan volatilitas.
Namun demikian, secara jangka panjang, HSC ini diyakini Jeffrey akan memperkuat kredibilitas pasar di mata investor global, termasuk dalam penilaian indeks global seperti MSCI Inc. ***
Related News
Tiga Penerbit Siap, OJK Kebut Finalisasi ETF Berbasis Emas di Q2-2026
2 Saham Masuk Radar UMA, Satu Terbang, Satu Tersungkur
IHSG di Ambang Tekanan, OJK Soroti Faktor Dinamika Eksternal
Operasional Pulih, BEI Buka Suspensi Laba Sekuritas Indonesia
12 Antrean Menuju IPO 2026, Bos BEI Beber Belum Ada BUMN hingga Konglo
Mencuat 4 Paket Calon Direksi Bursa, OJK Buka Suara





