EmitenNews.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Senin, 29 Juni 2026 di Mainhall Gedung BEI, Jakarta. Rapat membahas empat agenda utama, mulai dari pengesahan Laporan Keuangan 2025 hingga penetapan remunerasi Direksi periode 2026-2030.

Empat agenda RUPST tersebut meliputi persetujuan Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan 2025, penunjukan Akuntan Publik 2026, pengangkatan serta remunerasi Direksi masa bakti 2026-2030, dan agenda lain-lain.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam Paparan Publik, Senin (29/6/2026) menjelaskan tahun 2025 diawali tekanan eksternal yang berat.

"Rekan-rekan media yang kami hormati Indonesia, memasuki paruh pertama pasar dihadapkan pada berbagai tekanan eksternal, mulai dari meningkatnya tensi perang dagang akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga berlanjutnya ketidakpastian geopolitik global," kata Jeffrey.

Tekanan itu membuat IHSG sempat terkoreksi ke 5.996 pada April 2025. Namun kondisi berbalik di paruh kedua. Sepanjang 2025 IHSG mencatatkan 24 kali all-time high di level 8.711, dengan kapitalisasi pasar rekor Rp16.004 triliun. Transaksi harian saham rata-rata Rp18,1 triliun, produk non saham Rp7,6 triliun, obligasi SPPA Rp1.375 triliun, dan Bursa Karbon Rp36,37 miliar.

Dari sisi pencatatan, 26 perusahaan IPO dengan dana terhimpun Rp18,1 triliun atau naik 26% YoY. Total penghimpunan dana lewat EBUS mencapai Rp217,4 triliun. Jumlah investor juga tumbuh 37% menjadi 20,3 juta. 

Kinerja keuangan BEI terjaga positif. Pendapatan konsolidasi naik 29,8% menjadi Rp3,66 triliun. Laba bersih tumbuh 59,4% menjadi Rp1,07 triliun.

"Laba bersih Perseroan tumbuh 59,4% menjadi Rp1,07 triliun dan merupakan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah BEI," tutup Jeffrey.