EmitenNews.com - Tinjauan MSCI Mei 2026 lalu mengeluarkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dari MSCI Global Standard Index. Namun, AMRT masih mendapatkan kesempatan dengan menghuni MSCI Global Small Cap Index usai ditetapkan sebagai konsituen baru penyedia indeks global itu.

AMRT hanya turun kasta, berbanding terbalik dengan lima emiten lainnya yang dikeluarkan secara penuh dari konstituen MSCI Global Standard Index, tanpa adanya penurunan kelas indeks.

Mereka itu adalah, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).

Sekitar lima bulan berlalu, bagaimana kinerja keuangan emiten minimarket (AMRT) di kuartal III 2026 ini? 

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim 30 September 2026, AMRT membukukan lonjakan pendapatan neto menjadi Rp101,28 triliun. Naik 7,21 persen dari perolehan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp94,47 triliun.

Dalam catatan 17, perseroan memberikan rincian pendapatan neto berdasarkan jenis persediaannya. Dari jenis makanan, AMRT mencatat peningkatan penjualan 7,96 persen menjadi Rp72,14 triliun dari Rp66,82 triliun di periode sama tahun lalu, sedangkan jenis bukan makanan tercatat Rp29,14 triliun, meningkat 5,43 persen dari perolehan tahun lalu sebesar Rp27,64 triliun.

Jumlah biaya beban yang tercatat hampir mayoritas juga ikut naik. Beban pokok pendapatan misalnya, naik 6,62 persen menjadi Rp79,08 triliun dari Rp74,17 triliun. Lalu beban penjualan dan distribusi meningkat 9,55 persen jadi Rp18,13 triliun dari Rp16,55 triliun, beban umum dan administrasi yang juga naik 7,06 persen menjadi Rp1,82 triliun dari Rp1,70 triliun.

Meski begitu, laba sebelum pajak masih tercatat mengalami kenaikan sebesar 7,05 persen menjadi Rp3,19 triliun dari Rp2,98 triliun.

Sementara laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, tercatat sebesar Rp2,40 triliun, naik 3,90 persen dari Rp2,31 triliun.

Capaian itu membuat laba per saham diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik menjadi Rp58,43 dari Rp55,75 per lembarnya.