BI Pangkas GWM Hingga 2% Demi Guyur Likuiditas Perbankan
:
0
Gedung Bank Indonesia. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan secara bertahap mulai November 2026 guna memperkuat kecukupan likuiditas rupiah. Keputusan ini disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta pada Rabu (21/10/2026).
Penurunan GWM dilakukan melalui dua tahap penyesuaian. Untuk Bank Umum Konvensional (BUK), GWM diturunkan sebesar 2 persen dari posisi awal 9 persen menjadi 7 persen, dengan tahap pertama turun 1 persen mulai 1 November 2026 dan tahap kedua turun 1 persen mulai 1 Desember 2026.
Langkah serupa juga diberlakukan untuk Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS). GWM diturunkan dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen, yaitu turun 1 persen pada 1 November 2026 dan 1 persen berikutnya pada 1 Desember 2026.
"Arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam memperkuat stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," kata Destry.
Gubernur BI menjelaskan bahwa penurunan GWM tersebut dilakukan melalui penyesuaian Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diturunkan dari 6 persen menjadi 5 persen mulai 1 Desember 2026. Selain itu, besaran bagian tertentu dari pemenuhan kewajiban GWM rupiah yang diberikan remunerasi ditetapkan paling banyak 5 persen mulai 1 Desember 2026.
Kebijakan ini diselaraskan dengan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang serta penguatan instrumen operasi moneter pro-market guna menjaga sasaran inflasi 2026 dan 2027 pada rentang 2,5 plus minus 1 persen.
Bagi perekonomian dan pasar keuangan Indonesia, pemangkasan GWM ini memberikan tambahan injeksi likuiditas secara langsung ke sistem perbankan nasional. Langkah BI ini berpotensi mendorong peningkatkan penyaluran kredit perbankan ke sektor riil serta merangsang laju pertumbuhan ekonomi domestik menuju akhir tahun.(*)
Related News
BI Pertahankan BI-Rate Sebesar 5,75%
Emas Antam Turun Rp10.000, Tertekan Suku Bunga dan Minyak
Tekanan Inflasi Global Pukul Harga Emas ke USD4.100
Kinerja Keuangan Solid Dorong Penguatan Kontrak Berjangka AS
Harga Minyak Stabil di Tengah Ketidakpastian Diskusi AS-Iran
Kesenjangan Pemahaman, Inklusi Keuangan Syariah Butuh Inovasi Produk





