EmitenNews.com - Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan menguat mulai Juli 2026. Keyakinan bank sentral itu, didasari pada meredanya tren permintaan valuta asing (valas) musiman, yang meningkat pada periode April hingga Juni 2026. Kurs rupiah pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) melemah menjadi Rp17.668 dari sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/5/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo mengemukakan kebutuhan dolar Amerika Serikat meningkat secara musiman pada April-Juni. Pasalnya, terjadi aktivitas pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta kebutuhan ibadah haji.

"Kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat. Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni. Insya Allah nanti Juli akan menguat," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.

Satu hal, Perry meyakini bahwa nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yakni Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp16.500.

Nilai tukar rupiah secara tahun berjalan (year to date/ytd) berada pada kisaran Rp16.900 per dolar AS. Meski demikian, bank sentral optimistis penguatan rupiah pada Juli dan Agustus akan menurunkan rerata tahunan kembali ke rentang target APBN.

Menurut Perry, selain faktor domestik karena tingginya permintaan valas, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kondisi global yang memburuk sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada Februari lalu.

Meningkatnya risiko geopolitik global tercermin dari kenaikan credit default swap (CDS), lonjakan harga minyak dunia, serta tingginya inflasi di AS yang membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

Satu hal, kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, baik tenor jangka pendek maupun panjang, sehingga memicu penguatan dolar AS dan arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kemudian, dari sisi arus modal, Perry mengungkapkan bahwa pasar saham mencatat arus keluar (outflow) Rp26,06 triliun pada Januari-Maret 2026, sedangkan pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow Rp25,1 triliun pada periode yang sama.

Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat inflow pada Januari dan Februari sebelum berbalik mengalami outflow pada Maret seiring meningkatnya tensi geopolitik global.