EmitenNews.com - Bank Negara Indonesia (BBNI) membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026, tumbuh 11,6 persen secara tahunan (year on year/YoY). Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode kuartal III, mencerminkan ketahanan fundamental perseroan di tengah dinamika ekonomi global, dan tekanan margin industri perbankan.

Kinerja tersebut didukung pertumbuhan kredit 22,2 persen YoY menjadi Rp992,5 triliun, dengan distribusi merata seluruh segmen. Dana murah atau current account savings account (CASA) juga tumbuh 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi 1,9 persen.

Di tengah dinamika ekonomi global, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen serta memutuskan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan dan mendukung penyaluran kredit ke sektor produktif.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko. "Di tengah dinamika pasar menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Selasa, 27 Oktober 2026.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI tumbuh 13,6 persen YoY menjadi Rp33,2 triliun, sedangkan fee-based income meningkat 8,3 persen YoY menjadi Rp13,9 triliun. Di tengah tekanan margin dan kebutuhan pencadangan memadai, BNI tetap membukukan pertumbuhan laba bersih 6,6 persen YoY menjadi Rp16,1 triliun.

Digitalisasi dan Penguatan Pendanaan

Pengembangan layanan digital dan jaringan cabang terus mendukung pertumbuhan bisnis BNI. Hingga September 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58 persen YoY, dengan nilai transaksi Rp1.774 triliun atau meningkat 25 persen YoY. Sementara itu, BNIdirect mencatat nilai transaksi Rp9.324 triliun, tumbuh 16 persen YoY, dengan jumlah pengguna mencapai 293 ribu atau meningkat 19 persen YoY.

Penguatan layanan tersebut didukung transformasi jaringan melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) untuk meningkatkan produktivitas cabang, aktivitas transaksi, dan penghimpunan dana murah. "Integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah di berbagai segmen," tambah Putrama.

Kredit Berkualitas dan Kualitas Aset Terjaga

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, ekspansi kredit dilakukan secara selektif pada semua segmen, dengan menerapkan standar analisis kelayakan kredit (underwriting) disiplin. Strategi tersebut mendorong pangsa pasar kredit BNI meningkat 113 basis poin (bps) YoY menjadi 10,6 persen. Nah, dari sisi pendanaan, penguatan layanan perbankan transaksi melalui BNIdirect, dan wondr by BNI turut mendorong pertumbuhan CASA 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun.