Cadangan Minyak AS Drop Terendah 43 Tahun Imbas Konflik Iran
:
0
Persediaan minyak mentah dalam Cadangan Minyak Strategis (SPR) Amerika Serikat menyusut ke titik terendah dalam 43 tahun terakhir, yakni menyisa 311,4 juta barel pada pekan yang berakhir 17 Juli. (Foto: Al Arabia)
EmitenNews.com - Persediaan minyak mentah dalam Cadangan Minyak Strategis (SPR) Amerika Serikat menyusut ke titik terendah dalam 43 tahun terakhir, yakni menyisa 311,4 juta barel pada pekan yang berakhir 17 Juli. Menurut data Departemen Energi AS yang dihimpun Biggo Finance, volume tersebut berkurang sekitar 5,1 juta barel dalam satu pekan dan menjadi level terendah yang belum pernah terjadi sejak Maret 1983.
Penurunan drastis ini dipicu oleh lonjakan ketegangan geopolitik dan gangguan pengiriman energi di Selat Hormuz. Sejak AS dan Israel memulai operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari, Washington telah mengeluarkan total 104,04 juta barel minyak mentah dari cadangan daruratnya. Langkah ini diambil sebagai upaya menstabilkan harga bensin domestik serta bagian dari komitmen pelepasan 172 juta barel bersama Badan Energi Internasional (IEA).
Ancaman terhadap rantai pasokan global kian nyata seiring meningkatnya risiko blokade di kawasan Teluk. Korps Garda Revolusi Iran menerbitkan peringatan keras terkait navigasi di selat selatan dengan menyatakan, "Selat tersebut tidak akan lagi mengizinkan pengiriman kargo petrokimia; tidak setetes pun minyak atau gas akan melewatinya secara normal." Di saat bersamaan, kelompok Houthi juga mengancam memblokade transportasi maritim Arab Saudi.
Dampak eskalasi militer dan ketidakpastian pengiriman membuat harga minyak mentah Brent berjangka sempat melampaui USD 90 per barel sebelum berada di kisaran USD 88,80 per barel. Sementara itu, margin penyulingan minyak mentah acuan AS 3-2-1 melonjak mendekati USD 70 per barel yang mencetak rekor tertinggi baru.
Departemen Energi AS menegaskan bahwa level persediaan saat ini masih di atas batas operasi minimum teknis sebesar 70 juta barel. Pemerintah AS juga berencana mengisi kembali cadangan secara bertahap sebanyak 200 juta barel minyak mentah mulai tahun depan setelah situasi pasar stabil.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak mentah dan bahan bakar olahan akibat konflik Timur Tengah yang masih berlangsung ini memberikan sinyal kewaspadaan tinggi. Gejolak harga energi global serta terganggunya jalur pasokan internasional berpotensi menaikkan biaya impor minyak maupun BBM nasional, yang pada akhirnya dapat menekan anggaran subsidi energi dan memicu inflasi domestik.(*)
Related News
Tujuan Ekspor, RI Bidik Kesepakatan Dagang dengan AS USD33 Miliar
Kejar Target Lifting 2027, SKK Migas Siapkan Strategi Produksi Minyak
Airlangga Optimistis Rupiah tak Tembus Rp19.000/USD, Begini Alasannya
Omzet Produk UMKM Jaringan Toko Kelontong SRC Capai Rp12,9 Triliun
Pasokan Gas RI Susut, Morgan Stanley Proyeksi Dampaknya
Susul Wall Street, Saham Teknologi Pacu Nikkei 225 Naik 1,1%





