EmitenNews.com - Pengurangan pengiriman gas melalui pipa oleh Indonesia berpotensi mempercepat investasi Singapura dalam infrastruktur gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) serta menjaga selisih harga pasar listrik tetap tinggi hingga paruh kedua tahun 2027. Pengurangan pasokan tersebut tercatat sebesar 17 miliar British thermal units per hari selama 18 hari, yang mewakili kurang dari 2 persen dari permintaan gas harian sektor pembangkit listrik Singapura.

Berdasarkan laporan Morgan Stanley yang dirilis Singapore Business Review pada Rabu (28/10/2026), importir gas Singapura dipastikan akan mengambil langkah tegas untuk menanggapi pemangkasan tersebut.

"Importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi hak-hak kontraktualnya, dan negara mengharapkan komitmen komersial yang ada untuk dipenuhi," kata Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong.

Menteri Energi Singapura Tan See Leng secara terpisah menyatakan bahwa Gas Supply Pte Ltd akan menentukan apakah pengurangan tersebut merupakan pelanggaran kontrak.

"Gas Supply Pte Ltd akan menentukan apakah pengurangan tersebut merupakan pelanggaran kontrak dan dapat menempuh upaya hukum komersial yang tersedia," ujar Menteri Energi Singapura Tan See Leng.

Tan mengutarakan bahwa Singapura memiliki pasokan gas pengganti yang cukup dari sumber lain, termasuk LNG dan fasilitas LNG siaga, sementara Singapore GasCo siap membeli pasokan tambahan jika diperlukan.

Singapura mengimpor gas alam setara 10 juta ton LNG sepanjang 2025, dengan sekitar 47 persen tiba melalui jalur pipa dari Malaysia dan Indonesia, di mana porsi impor dari Indonesia mencakup 34 persen dari total kebutuhan nasional negara jiran tersebut. Morgan Stanley memproyeksikan kapasitas impor LNG Singapura akan meningkat dari 11 juta ton per tahun pada 2025 menjadi 16 juta ton pada 2030 seiring berakhirnya kontrak pasokan gas Indonesia.

Saat ini harga LNG Asia menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir, sementara selisih harga listrik dan gas di Singapura berada di sekitar USD250 per megawatt-jam dan harga listrik spot puncak mendekati USD1.250 per megawatt-jam. Morgan Stanley memperkirakan margin listrik normal dapat stabil di angka USD45 hingga USD50 per megawatt-jam dari sebelumnya USD40.(*)