EmitenNews.com - Pasar mobil impor di China mengalami tekanan hebat seiring berlanjutnya penurunan volume impor bulanan hingga mendekati 50 persen secara tahunan (year-on-year) dalam dua bulan berturut-turut. Tekanan ini dipicu oleh pengetatan kebijakan pajak kendaraan mewah serta semakin dominannya penetrasi merek kendaraan listrik lokal di pasar domestik Tiongkok.

Berdasarkan data Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) yang dirilis Biggo Finance pada Rabu (28/10/2026), impor kendaraan China pada September 2026 tercatat hanya sebesar 21.000 unit. Angka ini anjlok 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut memperpanjang tren negatif pada Agustus 2026 yang terkoreksi 51 persen menjadi 23.000 unit, sehingga total akumulasi impor sepanjang Januari hingga September 2026 turun 20 persen menjadi 290.000 unit.

Sekretaris Jenderal CPCA Cui Dongshu menyebutkan penurunan impor kendaraan dari Jepang menjadi pendorong utama penurunan tajam industri otomotif baru-baru ini. Impor asal Jepang pada Januari hingga September 2026 tercatat sebesar 137.000 unit atau menyumbang hampir separuh dari total impor kendaraan China.

Penyebab utama lesunya pasar impor ini berakar pada kebijakan perpajakan baru. Kementerian Keuangan dan Administrasi Perpajakan Negara China telah menurunkan ambang batas pajak konsumsi tambahan 10 persen untuk kendaraan ultra-mewah dari 1,3 juta yuan atau setara USD200.000 menjadi 900.000 yuan atau sekitar USD140.000 per unit. Perubahan aturan yang turut menyasar kendaraan listrik berbasis baterai dan sel bahan bakar hidrogen ini secara langsung mengikis keunggulan harga modal impor di tingkat pengecer.

Di saat bersamaan, produsen kendaraan listrik domestik Tiongkok terus merambah ke segmen pasar kelas atas. Merek lokal seperti Nio, Li Auto, Zeekr, hingga merek mewah milik BYD, Yangwang, kini makin agresif menawarkan produk di rentang harga 300.000 hingga 1 juta yuan atau setara USD45.000 hingga USD150.000. Persaingan langsung ini menggerus pangsa pasar yang selama ini dikuasai oleh pabrikan global asal Eropa dan Jepang.

Dampak dari kombinasi kebijakan pajak dan persaingan lokal ini sangat nyata pada jajaran merek premium dan ultra-mewah. Penjualan ritel merek asal Inggris, Jaguar, mencatatkan penurunan paling dramatis sebesar 99,7 persen secara tahunan, yakni dari 1.937 unit pada September 2025 menjadi hanya 6 unit pada September 2026. Sementara itu, total penjualan gabungan tujuh merek ultra-mewah—termasuk Bentley, Ferrari, Lamborghini, dan Maserati—anjlok 49,4 persen menjadi 221 unit pada September 2026, di mana Bentley hanya membukukan penjualan 99 unit dan Ferrari 22 unit.

Menanggapi perubahan struktur pasar tersebut, sejumlah pabrikan otomotif global mulai mengalihkan strategi dengan memperkuat basis produksi dan pusat riset lokal di China. BMW berencana memproduksi SUV listrik iX3 versi jarak sumbu roda panjang di Shenyang, Audi menggandeng SAIC Motor untuk pengembangan teknologi pengemudian otonom di Shanghai, serta Jaguar Land Rover bermitra dengan Chery Automobile untuk menggarap pasar kendaraan listrik.(*)