EmitenNews.com - BUMA Internasional Grup (DOID) per 31 Maret 2026 melanjutkan pemulihan dari tantangan operasional. EBITDA meningkat signifikan secara tahunan meski pendapatan lebih rendah 10 persen. Pencapaian itu, tetap terjaga di kuartal secara musiman merupakan periode dengan curah hujan tertinggi, dan paling menantang sepanjang tahun.

Kinerja itu, didukung perbaikan struktural pada produktivitas, biaya unit, dan disiplin operasional. Grup juga telah menyelesaikan pembentukan tim ahli (subject-matter expert) tersentralisasi pada fungsi-fungsi utama sebagai penggerak utama peningkatan kinerja. Perbaikan operasional melanjutkan tren telah dibangun sepanjang 2025.

Sisi operasional Indonesia, jam non-produktif (non-productive hours) turun 14 persen seiring penanganan kondisi licin akibat hujan, hambatan pada area disposal, jalan angkut, dan kondisi geologi. Produktivitas bank cubic meter (BCM) per jam meningkat 1 persen YoY sejalan penurunan cycle time 1 persen YoY, didukung kondisi jalan angkut lebih baik, dan waktu antre bberkurang.

Biaya unit (unit cost) per BCM turun 1 persen YoY, menunjukkan disiplin biaya tetap terjaga. Biaya tenaga kerja per BCM turun 4 perssen YoY, didukung disiplin shift berkelanjutan, dan penempatan operator lebih efisien, dengan rasio operator terhadap peralatan turun 3 persen YoY. Biaya bahan bakar per BCM naik 3 persen YoY, sepenuhnya disebabkan kenaikan harga bahan bakar, sementara konsumsi per BCM tetap stabil, mencerminkan efisiensi armada konsisten.

Biaya perbaikan, dan pemeliharaan per BCM naik 13 persen YoY, seiring langkah terencana untuk percepatan aktivitas pemeliharaan guna memaksimalkan kesiapan peralatan menghadapi periode operasional lebih kering pada kuartal kedua dan ketiga. Melihat perkembangan setelah kuartal pertama, pemulihan operasional berlanjut hingga April, dan tercermin dalam peningkatan volume, didukung eksekusi lebih solid, dan kondisi cuaca mulai membaik.

Volume bulanan pengupasan lapisan tanah penutup gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 juta bank cubic meter (MBCM) pada Februari menjadi 30,4 MBCM pada Maret, dan 34,3 MBCM pada April. Sementara itu, produksi batu bara mencapai 5,9 juta ton (MT) pada April, masing-masing sekitar 16 persen, dan 22 persen di atas rata-rata bulanan Kartal pertama 2026.

Volume overburden removal turun 12 persen YoY menjadi 89 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 20 persen YoY menjadi 15 juta ton (MT). Penurunan volume terutama mencerminkan berakhirnya kontrak site Binungan Indonesia, dan site Burton Australia, serta ramp-down dua site Indonesia pada 2025. Site beroperasi normal tetap stabil. Pendapatan tercatat USD318 juta, turun 10 persen YoY, sejalan portofolio aktif lebih kecil.

Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik 3 persen YoY, didukung porsi kontrak rise and-fall lebih tinggi, dan kenaikan tarif berjenjang berhubungan dengan harga batu bara. EBITDA meningkat 98 persen YoY menjadi USD28 juta dari periode sama tahun lalu USD14 juta, dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11 persen dari posisi sama tahun lalu 5 persen.

Grup mencatat rugi bersih USD24 juta, berkurang 66 persen dibanding periode sama tahun lalu rugi bersih USD70 juta. Perbaikan itu, mencerminkan pemulihan EBITDA, dan tiga faktor non-operasional yang mendukung, yaitu keuntungan USD12 juta dari optimisasi portofolio ACG masih berjalan melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals USD12 juta, dan tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia USD4 juta dicatat pada kuartal I 2025.

Belanja modal tercatat USD20 juta, dialokasikan untuk menjaga keandalan armada, dan keberlanjutan operasional. Arus kas bebas (free cash flow) berbalik positif menjadi USD2 juta, dibanding edisi sama tahun lalu negatif USD19 juta. Perbaikan itu, terutama didorong penerimaan USD17 juta dari penjualan lahan dalam kerangka optimisasi portofolio ACG, didukung pemulihan EBITDA, dan belanja modal jauh lebih rendah.