Data Ekonomi China Yang Lebihi Ekspektasi Angkat Indeks Saham Asia
:
0
EmitenNews.com - Indeks saham di Asia sore ini Senin (15/11) ditutup naik setelah sejumlah data ekonomi penting Tiongkok secara tak terduga keluar lebih baik dari ekspektasi. Hal ini menmatahkan asumsi bahwa pemulihan ekonomi Tiongkok telah kehilangan momentum.
"Selain itu investor berekspektasi bahwa kontraksi ekonomi Jepang di 3Q21 telah memperkuat alasan bagi PM Fumio Kishida untuk mengumumkan peluncuran paket stimulus akhir pekan ini," tambah analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha.
Di Tiongkok, Industrial Production dan Penjualan Ritel tumbuh lebih cepat dari prediksi pasar selama bulan Oktober di tengah pemberlakuan kembali kebijakan pembatasan sosial dan gangguan pada rantai pasok. Namun kelesuan di sektor properti masih membayangi prospek ekonomi.
Industrial Production di bulan Oktober tumbuh 3.5% (Y/Y), lebih cepat dari kenaikan 3.1% (Y/Y) di bulan September dan ekspektasi pasar, 3.0% (Y/Y). Sementara penjualan ritel tumbuh 4.9% (Y/Y), mengalahkan ekspektasi kenaikan 3.5% dan mengikuti pertumbuhan 4.4% (Y/Y) di bulan September.
Investasi Aset Tidak Bergerak (Fixed Asset Investsment) tetap melambat, dengan hanya tumbuh 6.1% (Y/Y) di 10M021, lebih rendah dari pertumbuhan 6.2% (Y/Y) di 9M2021.
Harga Rumah Baru (New Home Prices) turun 0.2% (M/M) di bulan Oktober, terparah sejak Februari 2015 di tengah terus melemahnya permintaan akibat aturan pembelian rumah yang ketat untuk melawan aksi spekulasi. Kontraksi bulan Oktoner ini adalah penurunan bulanan pertama sejak Maret 2015 dan mengikuti pertumbuhan 0% di bulan September.
Dari dalam negeri, di tengah tingginya harga berbagai komoditas, ekspor Indonesia terbang 53.35% (Y/Y) di bulan Oktober menjadi USD22 miliar. Lebih tinggi dari estimasi kenaikan 46.8% dan laju pertumbuhan 47.6% (Y/Y) di bulan September.
Impor meningkat 51.1% (Y/Y) menjadi USD16.3 miliar, lebih rendah dari estimasi pertumbuhan 56.1%, namun lebih cepat dari lonjakan 40.3% (Y/Y0 di bulan September. Ini adalah kenaikan impor selama 9 bulan beruntun di tengah membaiknya permintaan domestik pasca pelonggaraan kebijakan pembatasan sosial (PPKM) dan semakin luasnya tingkat vaksinasi masyarakat.
Surplus Neraca Perdagangan semakin menebal menjadi USD5.74 miliar di bulan Oktober, naik dari USD3.58% miliar di bulan Oktober 2020. Sehingga Neraca Perdagangan mencatatkan surplus selama 18 bulan beruntun karena pertumbuhan ekspor yang lebih cepat dari pertumbuhan impor.
Dari sisi geopolitik, Dustin memperkirakan investor menantikan hasil pertemuan virtual antara Presiden Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping malam nanti.
Related News
Kemendag Minta Klarifikasi Traveloka Terkait Refund Pembatalan Tiket
Dubes China Dukung Perluasan Akseptasi QRIS di Negaranya
Tutup April 2026, IHSG Merosot Tajam Tinggalkan Level 7.000
IHSG Sesi I Ambles 2,46 Persen, Asing Net Sell Rp0,97 Triliun
Bursa Sorot MSIE-HBAT, BOBA Dilepas, dan BAPA Kena Suspensi Kedua
Begini Bahlil Respon Laporan JP Morgan Soal Konsumsi Energi





