EmitenNews.com - Seiring dengan meredanya gejolak di bursa saham akibat kebijakan Tarif Trump, harga saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) menunjukkan tren pemulihan yang signifikan setelah sebelumnya sempat tertekan ke level terendahnya sejak awal tahun.

Pada penutupan perdagangan 9 April 2025 lalu, saham TUGU ditutup pada Rp885 bahkan sempat menyentuh Rp860 pada perdagangan intraday. Hal ini mencerminkan pelemahan yang cukup dalam sejak pertengahan Maret. Namun dalam waktu singkat, saham ini berhasil bangkit dan mencapai level Rp975 pada penutupan perdagangan Selasa (16/4/2025) atau naik 10,2% hanya dalam 5 hari perdagangan.

Saham TUGU ditutup di zona hijau dalam 5 hari perdagangan beruntun, bahkan sempat menyentuh level Rp990 pada perdagangan Senin 14 April. Dalam sepekan investor asing masih memilih untuk mengoleksi saham ini dengan net foreign buy Rp585 juta.

Kenaikan saham TUGU dalam 5 hari beruntun mengalahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 7,2% dalam 4 hari perdagangan dan indeks LQ45 yang naik 7,2%.

Analis Philip Sekuritas Edo Ardiansyah menilai tren penguatan saham TUGU dipengaruhi beberapa faktor. Pertama adalah rencana pengumuman dividen pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahun emiten TUGU pada Selasa, 29 April 2025. Emiten ini konsisten membagikan dividen dengan imbal hasil yang lumayan menarik sejak IPO pada 2018 lalu.

"Dividen payout ratio sesuai konsensus IPO adalah 30% dan dalam 3 tahun terakhir selalu 40% dari laba bersih. Bila ini terjadi maka yield dividen akan menarik seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini berperan dalam rally saham TUGU dalam 4 hari terakhir, di luar faktor bahwa valuasi emiten ini sudah cukup murah," ujarnya.

Dengan perhitungan sederhana, potensi dividen per saham TUGU berada di kisaran Rp59,06 hingga Rp78,75 dengan asumsi dividen payout ratio 30-40%. Dengan demikian, yield dividen dengan perbandingan harga saham hari ini di kisaran 6,12% sampai 8,16%.

"Investor yang kemarin collect TUGU di harga bawah Rp860-Rp900 tentu akan mendapatkan yield yang lebih menarik," ujarnya.

Faktor berikutnya, menurut Edo adalah potensi kenaikan saham ini karena nilai buku (book value) saham TUGU selalu naik setiap tahun. Hal ini disebabkan karena sekitar 60%-70% laba akan ditahan sebagai modal.

"Asumsi bahwa saham TUGU tetap diperdagangkan pada 0,35x sampai 0,4x PBV (price to book value) maka harganya tahun depan akan naik dibandingkan per hari ini dan begitu pula tahun berikutnya. Apalagi 0,4x PBV itu masih relatif murah dan berpeluang naik ke 0,8x PBV hingga 1x PBV," ujarnya.