EmitenNews.com - Indeks dolar AS merosot ke kisaran level 101,2 pada perdagangan hari Senin, menghapus sebagian keuntungan pekan lalu. Penurunan indeks dolar AS terjadi seiring merosotnya harga minyak dunia usai berhentinya aksi permusuhan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sepanjang akhir pekan.

Di pasar keuangan Indonesia, pelemahan dolar AS secara teori memberi momentum penguatan bagi rupiah. Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi serta beban impor migas nasional. Namun, pergerakan rupiah juga dibayangi dinamika domestik setelah Presiden Prabowo Subianto resmi menerima pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).

Posisi pimpinan bank sentral kini diisi oleh Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI. Berdasarkan Undang-Undang Bank Indonesia, Deputi Gubernur Senior otomatis menjalankan seluruh tugas pimpinan hingga dilantiknya gubernur definitif.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi keputusan tersebut di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, pada Senin (27/7/2026). Ia menyampaikan bahwa pemerintah tengah memproses Keputusan Presiden terkait pemberhentian secara hormat Perry Warjiyo setelah memimpin BI selama kurang lebih tujuh tahun.

“Bapak Presiden menerima pengunduran diri dari Bapak Perry Warjiyo disertai ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi beliau selama kurang lebih tujuh tahun memimpin Bank Indonesia,” kata Prasetyo Hadi.

Prasetyo menambahkan penunjukan pimpinan sementara ini telah sesuai aturan perundang-undangan.

“Sesuai dengan Undang-Undang Bank Indonesia, jabatan Gubernur Bank Indonesia akan secara otomatis dijabat oleh Deputi Gubernur Senior, yang selanjutnya akan menjalankan seluruh tugas sebagai Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia. Yang dimaksud Deputi Gubernur Senior adalah Ibu Destry Damayanti,” ujar Prasetyo.

Pergantian pimpinan di tengah pelemahan dolar AS membuat pelaku pasar mencermati keberlanjutan arah kebijakan moneter Indonesia. Penurunan tensi AS-Iran yang dilaporkan Trading Economics—di mana AS menangguhkan serangan dan Iran menghentikan operasi balasan serta berdiskusi dengan Oman terkait Selat Hormuz—menjadi faktor penopang eksternal.

Di saat bersamaan, investor global juga menantikan hasil rapat kebijakan The Federal Reserve (The Fed) pekan ini. Pelaku pasar domestik kini menanti langkah awal Destry Damayanti untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah proses transisi kepemimpinan bank sentral.(*)