EmitenNews.com - Indeks dolar AS bergerak melemah mendekati level 100 pada perdagangan hari Jumat. Posisi ini terjadi setelah indeks dolar merosot selama tiga sesi berturut-turut dan berada di jalur penurunan mingguan lebih dari 1 persen. Pelemahan mata uang Paman Sam ini dipicu oleh sikap hati-hati bank sentral AS, Federal Reserve, serta dugaan intervensi mata uang oleh pemerintah Jepang untuk memperkuat nilai tukar yen.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa yen saat ini dalam kondisi sangat undervalue dan volatilitas mata uang yang berlebihan tidak sehat bagi perekonomian.

Pernyataan tersebut menyusul lonjakan yen terhadap dolar AS yang mencapai 3,3 persen pada hari Kamis, seiring keyakinan para pelaku pasar bahwa otoritas Tokyo kembali melakukan aksi intervensi di pasar valuta asing.

Di sisi lain, Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada pekan ini. Kebijakan ini diambil meskipun risiko inflasi global kembali meningkat akibat eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.

Keputusan tersebut tidak diambil secara bulat karena tiga anggota Federal Open Market Committee tetap memberikan suara untuk kenaikan suku bunga. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sebesar 63 persen bagi Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mendatang.

Dinamika pasar global ini memberikan implikasi nyata bagi pasar keuangan Indonesia. Tekanan terhadap dolar AS umumnya memberi ruang napas dan peluang bagi nilai tukar rupiah untuk bangkit, sekaligus membuka aliran modal ke pasar berkembang.

Namun, ketidakpastian arah suku bunga Fed serta fluktuasi harga komoditas akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai oleh para pelaku pasar di dalam negeri.(*)