EmitenNews.com - PT Bank Syariah Indonesia (BRIS) atau BSI pada kuartal III-2021 mencatat laba bersih Rp2,26 triliun. Melesat 37,01 persen secara year on year (YoY). Itu seiring strategi fokus digitalisasi produk, dan layanan.


Strategi BSI fokus digitalisasi, mampu mendorong pertumbuhan laba bersih pada kuartal III-2021. BSI terus berinovasi layanan jasa keuangan termasuk digital banking. ”Akselerasi digital menjadi salah satu fokus menggenjot bisnis. Itu tecermin dari transaksi kumulatif BSI Mobile mencapai 74,24 juta transaksi atau tumbuh 133 persen yoy,” tutur Direktur Utama BSI, Hery Gunardi, Kamis (28/10).


Transaksi melalui e-channel mencapai 162,40 juta transaksi atau 95 persen transaksi di BSI sudah menggunakan e-Channel. Sedang sisa 5 persen masih menggunakan layanan teller. Selain terdorong transaksi digital, laba bersih ditopang dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp219,19 triliun.


DPK akan terus ditingkatkan khususnya tabungan wadiah. Tabungan wadiah tumbuh 16,22 persen yoy atau mencapai Rp30,35 triliun. Total tabungan naik 11,57 persen yoy mencapai Rp91,43 triliun. Pertumbuhan itu, menyusul perbaikan cost of fund kini sekitar 2,10 persen. Persentase itu, turun signifikan dibanding Desember 2020 sebesar 2,67 persen.


Kinerja pembiayaan tumbuh 7,38 persen yoy menjadi Rp163,32 triliun. Kualitas pembiayaan (NPF) nett terjaga 1,02 persen. Pertumbuhan pembiayaan didukung pembiayaan konsumer mencapai Rp77,89 triliun, naik 21,43  persen yoy dari periode sama tahun lalu Rp64,14 triliun. Gadai emas tumbuh 15,58 persen mencapai Rp4,42 triliun dari sebelumnya Rp3,82 triliun.


Realisasi pembiayaan komersial mencapai Rp10,58 triliun, tumbuh 7,29 persen yoy dari sebelumnya Rp9,86 triliun. Sektor mikro tumbuh 4,74 persen. BSI terus mendorong pertumbuhan pembiayaan UMKM sehingga komposisi September 2021 mencapai 22,93 persen, naik dari Desember 2020 sekitar 22,40 persen. Aset tercatat Rp251,05 triliun atau naik 10,15 persen dari periode sama tahun lalu Rp227,92 triliun.


BSI berkomitmen menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan (sustainable finance). Pembiayaan keuangan berkelanjutan mencapai Rp41,07 triliun atau setara 22,9 persen dari total pembiayaan BSI. Dukungan pada transaksi sosial keagamaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) juga terus digencarkan BSI melalui penyaluran zakat mencapai Rp72,48 miliar.


Performa itu, menggambarkan optimisme masyarakat, kondisi ekonomi berangsur membaik setelah terpukul pandemi Covid-19. BSI bertekad menjaga momentum pemulihan ekonomi dengan pelayanan prima bagi nasabah. Sebagai bentuk dukungan, dan komitmen BSI dalam pemulihan ekonomi nasional, BSI turut aktif dalam penyaluran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Tahap 2.


Per Oktober 2021, BSI telah menyalurkan program PEN Rp4,5 triliun.  Atau me-leverage 1,5 kali dari dana PEN diterima Rp3 triliun. Dana sebesar itu menyasar lebih dari 18 ribu nasabah. ”Itu wujud nyata komitmen kami mendorong pemulihan ekonomi nasional,” ucap Hery. (*)