Efektivitas Stimulus Rp200T Dipertanyakan, Kredit Himbara Belum Tumbuh
Ilustrasi foto gedung emiten bank BBNI, BMRI, BBRI, hingga BBTN. Ilustrasi Foto: MetroTv.
EmitenNews.com - Pemerintah bersama otoritas moneter telah menggelontorkan stimulus likuiditas sekitar Rp200 triliun kepada bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kebijakan ini dirancang untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan, mempercepat penyaluran kredit, serta mendorong aktivitas ekonomi nasional. Secara konsep, likuiditas yang lebih longgar diharapkan mampu menurunkan hambatan pembiayaan dan memperbesar peran perbankan sebagai motor pertumbuhan. Namun, realisasi di lapangan menunjukkan hasil yang belum sepenuhnya sejalan dengan harapan. Hingga saat ini, pertumbuhan kredit Himbara masih berada di kisaran satu digit atau relatif rendah dibandingkan besarnya stimulus yang telah disalurkan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar. Jika kapasitas likuiditas telah diperkuat secara signifikan, mengapa ekspansi kredit belum bergerak agresif? Apakah stimulus belum efektif, atau justru terdapat faktor struktural, kehati-hatian risiko, serta dinamika permintaan yang menahan laju pertumbuhan kredit?
Stimulus Besar, Transmisi Terbatas
Suntikan likuiditas Rp200 triliun dimaksudkan untuk memperluas ruang gerak perbankan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif, mulai dari UMKM, korporasi besar, hingga proyek strategis nasional. Dalam kerangka kebijakan, stimulus ini seharusnya meningkatkan money multiplier dan mempercepat perputaran dana di perekonomian. Namun, terbatasnya pertumbuhan kredit menunjukkan bahwa likuiditas bukan satu-satunya kendala utama dalam sistem perbankan.
Bank memiliki dana yang memadai, tetapi keputusan kredit tetap sangat bergantung pada kualitas permintaan dan kelayakan debitur. Dalam situasi ekonomi yang masih dibayangi ketidakpastian global dan moderasi pertumbuhan domestik, likuiditas besar tidak serta-merta diterjemahkan menjadi ekspansi kredit yang agresif dan merata.
Permintaan Kredit yang Hati-Hati dan Risk Appetite Bank
Dari sisi permintaan, dunia usaha cenderung bersikap defensif. Banyak pelaku bisnis memilih menunda ekspansi dan investasi besar, menjaga arus kas, serta mengoptimalkan struktur biaya. Akibatnya, kebutuhan pembiayaan baru belum tumbuh secepat yang diharapkan. Kondisi ini diperkuat oleh volatilitas global, arah kebijakan suku bunga, serta fluktuasi harga komoditas yang memengaruhi perencanaan bisnis jangka menengah.
Di sisi penawaran, Himbara menunjukkan kehati-hatian yang tinggi dalam mengelola risiko. Pengalaman menghadapi peningkatan kredit bermasalah di masa lalu mendorong bank untuk lebih selektif, meskipun likuiditas tersedia. Fokus menjaga kualitas aset, rasio NPL, dan ketahanan neraca sering kali lebih diutamakan dibandingkan mengejar pertumbuhan kredit secara kuantitatif.
Tekanan Profitabilitas dan Strategi Penempatan Dana
Pertumbuhan kredit yang terbatas juga berkaitan dengan tantangan profitabilitas perbankan. Tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM), meningkatnya biaya dana, serta kebutuhan pencadangan membuat ekspansi kredit berisiko tinggi menjadi kurang menarik. Dalam konteks ini, sebagian likuiditas hasil stimulus justru dialihkan ke instrumen yang lebih aman dan likuid, seperti surat berharga negara.
Strategi ini mencerminkan pendekatan defensif perbankan dalam menyeimbangkan antara pertumbuhan, risiko, dan stabilitas keuangan. Namun, di sisi lain, langkah tersebut mengurangi dampak langsung stimulus terhadap pembiayaan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi.
Ketidaksinkronan Kebijakan dan Aktivitas Ekonomi Riil
Fenomena kredit yang belum tumbuh signifikan mengindikasikan adanya tantangan dalam transmisi kebijakan. Stimulus dari sisi likuiditas tidak selalu efektif tanpa dukungan iklim usaha yang kondusif, kepastian regulasi, serta proyek investasi yang layak secara ekonomi dan risiko. Dalam kondisi ini, efektivitas stimulus perlu dievaluasi sebagai bagian dari kebijakan yang lebih menyeluruh, bukan semata dari besarnya dana yang digelontorkan.
Pendekatan yang terlalu berfokus pada suplai dana berpotensi menghasilkan likuiditas menganggur jika tidak diimbangi dengan kebijakan struktural yang mendorong permintaan kredit yang sehat dan berkelanjutan.
Implikasi bagi Pertumbuhan dan Stabilitas
Pertumbuhan kredit Himbara yang masih satu digit memiliki implikasi ganda. Dari sisi stabilitas, kehati-hatian perbankan membantu menjaga sistem keuangan tetap solid dan mencegah akumulasi risiko jangka panjang. Namun, dari sisi pertumbuhan, kredit yang bergerak lambat berpotensi menahan laju pemulihan dan ekspansi ekonomi, terutama bagi sektor-sektor produktif yang bergantung pada pembiayaan perbankan.
Bagi investor dan pelaku pasar, kondisi ini menegaskan bahwa kinerja perbankan tidak dapat dinilai hanya dari besarnya stimulus yang diterima. Fokus analisis perlu diarahkan pada kualitas pertumbuhan kredit, efisiensi operasional, manajemen risiko, serta keberlanjutan laba dalam jangka panjang.
Related News
Tantangan Pajak Cerdas di Era Coretax
Mengapa Banyak Emiten Buyback Saham?
Menelaah Fenomena Kelas Investasi Milik Content Creator
Hilirisasi di Simpang Keberlanjutan
Urgensi Regulasi Finfluencer untuk Perlindungan Investor Ritel
Peruntungan IHSG di Tahun Kuda Api





