EmitenNews.com - Risiko penurunan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh MSCI dinilai akan menimbulkan efek domino yang jauh lebih luas dari sekadar koreksi indeks saham. Dampaknya akan merembet ke mahalnya cost of capital (biaya modal) korporasi hingga kenaikan yield obligasi pemerintah.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan skenario terburuk tersebut memiliki konsekuensi berlapis. Jika Indonesia benar-benar diturunkan ke standalone, maka bobot Indonesia yang saat ini sudah sangat tipis akan hilang total dari indeks global.

"Kalau sekiranya kita benar diturunkan ke standalone, maka terdapat potensi capital outflow dari equity itu sekitar 3-5 miliar USD," ujar Josua dalam sesi doorstep usai kegiatan Permata Bank Wealth Wisdom 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Saat ini posisi Indonesia di MSCI Emerging Market iShares ETF sudah sangat marginal. Berdasarkan data PIER per 16 Oktober 2026, bobot Indonesia hanya 0,39% dari total Net Assets USD 29,07 miliar, atau hanya 9 saham dari 1.186 holdings. Jauh tertinggal dari Taiwan 29,08%, China 20,31%, Korea Selatan 18,56% dan India 11,41%. Padahal, kata Josua, pada 2005 bobot Indonesia masih di atas 1%.

"Artinya kan berarti konsekuensinya akan ada capital outflow ya, dan artinya juga dari sisi perusahaan juga, cost of capital (biaya permodalan) ini akan semakin mahal. Pada saat emiten akan meningkatkan pendanaannya juga akan semakin mahal," jelasnya.

Efek kedua, lanjut Josua, akan langsung terasa di pasar surat utang negara.

"Jadi makanya ini benar-benar harus kita pertimbangkan secara bersama-sama. Dampaknya sudah merembat kepada yield obligasi kita juga naik. Artinya kalau pemerintah ke depannya akan semakin mahal pada saat penerbitan obligasi, itu juga cost tambahan lagi untuk pemerintah untuk meng-grow pertumbuhan ke depannya," tuturnya.

Confidence Shock, Bukan Keputusan Final

Permata Institute for Economic Research (PIER) dipandu Josua dalam paparannya mengatakan, pengumuman MSCI pada 15 Oktober lalu memicu confidence shock, bukan keputusan final.

Pada hari pertama perdagangan setelah pengumuman, 16 Oktober 2026, IHSG anjlok 11,57%, USD/IDR melemah 0,41% ke Rp18.012, yield SBN 10-tahun naik 11 bps dan CDS 5-tahun naik 2,9 bps ke 97,5 bps.