EmitenNews - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri makanan dan minuman (mamin) berperan penting dalam kontribusi ekspor industri pengolahan non migas. Pada periode Januari-Desember 2020 total nilai ekspor industri mamin mencapai US$31,17 miliar atau 23,78% terhadap keseluruhan ekspor industri pengolahan non migas yang sebesar US$131,05 miliar.


“Sedangkan, nilai impornya pada Januari-Desember 2020 mencapai US$10,74 miliar atau 9,19% terhadap impor industri pengolahan non migas sebesar US$116,75 miliar,” paparnya.


Menperin menilai pemulihan ekonomi terus beranjak ke arah yang makin baik. Hal tersebut terlihat dari berbagai indikator, seperti Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur, penjualan ritel, dan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang mulai pulih. Sentimen positif investor asing juga mendorong aliran modal masuk kembali ke Indonesia, sehingga IHSG dan nilai tukar rupiah perlahan menguat dan kembali ke level sebelum covid.


Ia menyebut sepanjang 2020, neraca perdagangan mengalami surplus US$21,74 miliar. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia di Januari-Februari 2021 mencapai US$30,56 miliar atau naik 10,35% dibanding periode yang sama tahun 2020. Sementara, nilai impor Indonesia di Februari 2021 mencapai US$13,26 miliar, turun 0,49% daripada Januari 2021 atau naik 14,86% dibandingkan Februari 2020.


Jika melihat jenis industri secara spesifik pada triwulan IV 2020, industri mamin merupakan subsektor industri pengolahan non migas berkontribusi 38,01% terhadap PDB industri pengolahan non migas.


"Pertumbuhan industri mamin selama 2015-2019 rata-rata tumbuh 8,16%, dan ini di atas rata-rata pertumbuhan industri pengolahan non migas yaitu sebesar 4,69%," kata Agus. Kemudian, di triwulan itu juga terjadi kontraksi pertumbuhan industri non migas yaitu -2,52%, tapi industri mamin masih tumbuh positif sebesar 1,66%.(*)