EmitenNews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Senin (2/11) merilis data bahwa nilai ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai USD27,59 miliar atau naik 11,87 persen dibanding September 2025, yang didorong oleh kinerja sektor industri pengolahan yang meningkat 8,93 persen secara kumulatif.

Dari sisi komoditas pendukung ekspor nonmigas periode Januari hingga September 2026, lemak dan minyak hewani/nabati mencatatkan peningkatan nilai tertinggi senilai USD4,20 miliar atau naik 16,57 persen. Selain itu, ekspor nikel dan barang daripadanya turut melonjak 47,87 persen atau naik USD3,15 miliar.

Sementara di sisi impor kumulatif Januari hingga September 2026 yang mencapai USD210,63 miliar atau naik 19,67 persen, faktor pendorong utamanya didominasi oleh golongan bahan baku/penolong yang meningkat tajam sebesar USD26,25 miliar atau 21,11 persen, serta barang modal yang naik 16,49 persen. Negara asal impor nonmigas terbesar masih dikuasai Tiongkok dengan nilai USD76,16 miliar atau porsi 42,77 persen.

Secara keseluruhan, nilai ekspor total Indonesia periode Januari hingga September 2026 mencapai USD221,23 miliar atau meningkat 5,58 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Adapun nilai impor total pada rentang waktu yang sama tercatat sebesar USD210,63 miliar.

Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari hingga September 2026 tetap membukukan surplus sebesar USD10,61 miliar. Surplus ini ditopang oleh kinerja sektor nonmigas yang surplus USD34,21 miliar, meskipun sektor migas mengalami defisit USD23,60 miliar. Khusus untuk bulan September 2026, neraca perdagangan mencatatkan surplus sebesar USD3,36 miliar.

Berdasarkan negara tujuan utama ekspor nonmigas selama Januari hingga September 2026, Tiongkok menempati posisi pertama dengan nilai USD54,17 miliar atau porsi 25,52 persen. Posisi berikutnya diikuti oleh Amerika Serikat dengan nilai USD25,39 miliar atau 11,96 persen, serta India sebesar USD15,00 miliar atau 7,07 persen.

Kinerja neraca perdagangan yang tetap surplus ini memberikan fondasi yang stabil bagi ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah dinamika global. Keberlanjutan surplus ini membantu menjaga stabilitas cadangan devisa serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar keuangan domestik.(*)